Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘batam’

Jembatan I Barelang tampak dari Jembatan II;

Perairan Barelang tampak dari Jembatan II;

Also read other posts about Jembatan Barelang:

Jembatan Barelang, Ikon Kota di pinggir Kota

Jembatan Barelang Itu…

Advertisements

Read Full Post »

Kapanhari waktu pulang kantor dan lewat Jl. Raya Batam Center, saya melihat dua cowok lagi asyik foto-foto di tengah lapangan tak jauh dari Masjid Agung Batam. Sempat heran, ngapain coba foto-foto di lapangan gersang? Sampai akhirnya saya ngerti, yang mereka incar adalah background fotonya. Ayo tebak apa backgorundnya? Nyerah? Nyerah? (paan sih?!). Backgroundnya adalah Bukit Clara dengan tulisan raksasa WELCOME TO BATAM (WTB). Tulisan WTB tersebut baru selesai dibangun Pemkot Desember 2010 kemarin, dan memang diharapkan bisa menjadi landmark baru kota batam selain Jembatan Barelang.

Didasari rasa penasaran pengen kaya’ cowok-cowok di atas, lahirlah foto di bawah:
Please fokus pada tulisan WTB-nya ya, jangan pada jambul saya. 😀

Untuk yang akan pulang kampung, setelah sekian lama merantau di Batam yang keras ini, bolehlah foto-foto dulu di WTB sebelum pulang. Buat kenang-kenangan, dan oleh-oleh buat orang di kampung, “ini lho foto saya di Batam” Hehehe… Tapi jangan lupa, oleh-oleh yang terpenting tetap uang yang banyak dan kepribadian yang semakin matang dan kaya pengalaman. 🙂

***

Selain foto-foto di kaki bukit, kita juga bisa naik ke atas bukit clara. Tak perlu jalan kaki, motor bisa disetir naik sampai ke tulisan WTB. Jalan masuknya 350 meter selepas masjid agung batam, belok ke kiri. Masuk saja terus mengikuti jalan tanah yang penuh sampah di kiri kanannya. Kemudian menanjak tajam, hingga akhirnya sampailah kita di tulisan WELCOME TO BATAM. Baru nyadar, ternyata huruf-hurufnya besar juga. Tinggi masing-masing huruf 6 meter. Dan berat tiap huruf berkisar 3,5 – 4,5 ton. Bismillah, semoga nggak tumbang.

Dari atas bukit clara kita bisa melihat pemandangan kawasan batam center. Gedung-gedung pemerintah dan perkantoran tampak megah di bawah. Kawasan bengkong dan teluk tering juga tampak di kejauhan. Di sini cocok buat sekedar duduk-duduk sore menghabiskan waktu. Untuk teman ngobrol dan menikmati pemandangan, beli saja rujak buah di masjid raya yang sudah kondang itu. Pesan yang pedes, biar seru. Tapi ingat, jangan buang sampah sembarangan ya.


Read Full Post »

Minggu lalu saya sempat jalan-jalan ke Karimun, tepatnya ke kota Tanjung Balai. Agak berlebihan sebenarnya disebut jalan-jalan karena saya cuma mampir setengah hari di Balai demi menghadiri resepsi nikah seorang teman yang asli sana. Tanjung Balai adalah ibukota kabupaten Karimun. Dikenal juga dengan Tanjung Balai Karimun(TBK) karena terletak di pulau Karimun. Kota kecil ini dapat dicapai dari Batam sekitar satu jam perjalanan laut.

Perjalanan saya dan teman-teman dimulai dari pelabuhan ferry Sekupang Batam. Kami membeli tiket penyeberangan langsung di pelabuhan. Harga tiket sekali jalan Rp.65,000,- sedangkan ticket PP(pulang pergi) seharga Rp.120,000,-. Karena membeli tiket agak banyak, saya mendapat diskon dari penjualnya. Cukup Rp.110,000,- untuk ticket PP. Lumayaaan… 😀 Ada beberapa ‘maskapai’ yang melayani rute Sekupang – Balai. Pengalaman saya kemarin, tiket ferry Dumai Express sedikit lebih murah dibanding yang lain.

Pukul 09.30 kami naik ke ferry. Penyeberangan ke Karimun pun dimulai. Ferry melintasi perairan barat pulau batam, lengkap dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pulau Sambu dan Belakang Padang jelas melintang. Nun di sebelah utara, pulau Temasek alias Singapura tampak jelas dengan gedung-gedung jangkungnya. Setengah jam berikutnya ferry sudah berada di laut lepas, maksudnya sudah tidak berlayar di antara pulau-pulau. Jauh di sebelah utara samar samar saya melihat sebuh pulau kecil dengan mercusuar. Kalau tidak salah itulah Pulau Nipah, salah satu pulau terluar Indonesia yang sempat nyaris tenggelam oleh aktivitas pengerukan pasir. FYI, Jarak pulau Nipah dengan daratan Singapura terdekat hanya 7,5 km!

Kalau bosan memandangi laut dari dalam ferry, kita bisa naik ke lantai atas ferry, dan menikmati laut dari luar. Dari sini kita bisa lebih leluasa menikmati pemandangan laut. Tapi bila Anda naik ferry pada siang hari sebaiknya gunakan sunblock. Perpaduan cahaya matahari + angin laut bisa bikin kulit hitam dan kering.

Menjelang sampai di Tanjung Balai saya mulai merasa ada yang aneh. Air laut di sekitar pulau karimun ternyata berwarna coklat, bukan hijau atau biru sebagaimana laut yang ‘sehat’. Entah apa yang membuat lautnya jadi coklat keruh, yang jelas itu memperburuk citra Karimun.

Pukul 11.00 kami sampai di Tanjung Balai. Sekilas kota ini lumayan ramai . Tak kalah dari Tanjung Pinang, tapi tentunya belum sebesar Batam. Tanpa banyak basa-basi saya langsung meluncur ke tujuan utama ke pulau ini; resepsi nikah teman. Lokasinya di Batu Lipai, sekitar 7 km dari pelabuhan.

Di resepsi nikah ini saya menyaksikan tradisi berbalas pantun khas melayu. Jadi ketika rombongan pengantin pria datang ke rumah pengatin perempuan (tempat resepsi nikah diadakan), mereka harus berbalas pantun dulu dengan si empunya rumah. Jika menang, maka pengantin pria berhak bersanding dengan pengantin perempuan di pelaminan. Jika kalah, hmm.. sepertinya selalu diupayakan agar menang. 😀 Rekaman tradisi berbalas pantun ini bisa Anda lihat di sini: http://www.youtube.com/watch?v=IgLRb9DvMO8

Di kondangan saya makan, nyanyi dua lagu, salaman dengan sang raja dan ratu sehari, kemudian langsung meluncur balik ke pelabuhan. Bukan, bukan mau langsung pulang, melainkan mau beli tiket pulang dulu buat beberapa teman yang belum beli. Kalau belinya terlalu mepet khawatirnya kehabisan, ujung-ujungnya terpaksa menginap di Balai. Ferry terakhir ke Batam adalah pukul 16.00. Dengan last ferry inilah kami akan pulang.

Dan setelah beli tiket kami masih punya waktu senggang dua jam. Terus mau ngapain?? Mau ke mall, di Balai tidak ada mall. Mau ke 21, mall aja nggak ada! Mau nongkrong di McDonald, nggak ada juga… Akhirnya kami putuskan nongkrong di ‘adik jauhnya’ Mc Donald; McDota fried chicken. Semacam restoran cepat saji gitu, tapi merek lokal. McDota terletak di Padi Mas, komplek supermarket dan tempat makan yang sepertinya cukup populer di sini. Persis di depan padi mas berdiri Hotel Aston Karimun. Wew, di batam aja belum ada hotel Aston (_ _’)

Satu jam nongkrong di McDota kami siap-siap balik ke pelabuhan. Pukul 16.00 lebih sedikit ferry sudah meninggalkan karimun. Laut Karimun tetap berwarna coklat. Semakin jauh, semakin bening. Kesempatan ke Karimun berikutnya saya pengen bisa jalan-jalan ke Pantai Pelawan, Pantai pongkar, dan mendaki Gunung Jantan. Insyaallah.

Read Full Post »

Teman saya, Hana, di Jembatan Barelang

Jembatan Barelang itu…

1. Adalah landmark kota Batam. Belum ke batam kalau belum ke jembatan barelang.
2. Adalah sebutan untuk rangkaian 6 buah jembatan yang menghubungkan 7 pulau di Batam. Tapi kalau ada yang mengajak anda ke jembatan barelang, berarti yang dimaksud adalah jembatan pertama.
3. Meski menjadi landmark Batam, tetapi terletak jauh dari pusat kota. Lokasinya sekitar 20 km dari Batam Center.
4. Adalah tempat yang keren untuk melihat matahari terbenam (sunset).
5. Adalah tempat favorit untuk bunuh diri. Banyak kasus bunuh diri terjadi di sini. (_ _’)
6. Meski dijadikan tujuan wisata utama Visit Batam 2010, tetapi tidak ada transportasi publik menuju ke jembatan barelang. Hanya bisa dicapai dengan taxi/motor atau mobil sewaan.

Read Full Post »

Kampung Panau adalah sebuah kampung nelayan di daerah Kabil, Batam. Tak sulit mencapai kampung kecil ini. Setelah sampai di kawasan Kabil, tanya saja ke pos security di mana lokasi PT. Nexus. Kampung Panau terletak persis di sebelah PT. Nexus.

Saya sering ke pantai ini. Sekedar jalan-jalan sore, menikmati semilir angin pantai. Kebetulan lokasinya tak terlalu jauh. Hanya 7 kilometer dari rumah saya di Belian, Batam Center.

Kampung Panau memiliki pantai berpasir kuning. Pantai ini panjangnya kurang dari satu kilometer. Terjepit di antara kawasan industri. Di sebelah kanan pantai dibatasi oleh PT. Nexus Indonesia. Di sebelah kiri berbatasan dengan PT. SMOE Indonesia. Kedua perusahaan offshore itu juga mereklamasi pantai hingga beberapa ratus meter ke arah laut, membuat pantai Kampung Panau tampak serupa teluk.

Saat laut surut, dataran pasir muncul sampai beratus-ratus meter. Ibu-ibu dan anak-anak pun turun mencari kerang. Sementara sang bapak turun memeriksa keramba, kalau-kalau ada ikan dan kepiting yang terjebak waktu air pasang. Tradisional sekali. Sebuah nuansa tradisional yang tersisa di tengah himpitan modernisasi Batam.

Ada salah satu rumah warga di pinggir pantai yang menjual hasil laut yang disebut Rangak. Rangak itu sejenis kelomang laut (seperti gonggong) tapi berukuran lebih besar. Karena beli langsung di nelayan, rangak dijual murah saja. Rp.1000 sampai Rp.2000 per ekor, tergantung ukuran rangak.

Kalau pandai mengolah, rangak bisa jadi hidangan lezat. Rasa dagingnya perpaduan gong gong dan cumi cumi. Endang bambang gulindang. Penasaran? 🙂

Read Full Post »

Jika suatu saat Anda yang dari luar kota berkunjung ke Batam, maka Anda akan menemukan satu jenis minuman baru di daftar menu rumah makan. Minuman itu bernama Teh Obeng. Teh Obeng?? Iya. Jangan buru-buru mengait-ngaitkan minuman ini dengan perkakas elektronik OBENG karena keduanya memang tak ada hubungan sama sekali.

Teh obeng tak lain tak bukan adalah es teh manis. Persis! Tak ada beda! Lantas bagaimana ceritanya sampai namanya bisa jadi teh obeng??

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari Acara Wisata Kuliner-nya Pak Bondan Winarno, kata Obeng berasal dari bahasa cina O Peng. Tampaknya dalam penggunaan istilah Teh Obeng ini Batam terpengaruh kuat oleh tetangga dekatnya, Singapura dan Malaysia. Di Malaysia dan Singapura, yang dimaksud dengan minuman “tea” adalah teh yang dicampur dengan susu. Sementara kalau ingin minuman teh tanpa campuran susu, maka mereka menyebutnya “tea O”. O maksudnya kosong(teh kosongan maksudnya…). Nah, kalau pengen minum teh yang dikasih es alias es teh, maka mereka menyebutnya teh O Peng. Peng dalam bahasa cina berarti es. Istilah Teh O Peng inilah yang kemudian di Batam berubah bunyi menjadi teh Obeng.

Jika anda kehausan saat jalan-jalan kelliling Batam, jangan sungkan-sungkan untuk memesan Teh Obeng di Rumah Makan atau restoran terdekat. Dijamin seger! 🙂

Read Full Post »

Sekedar informasi buat Anda yang akanberkunjung ke Batam, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama tinggal di Batam, setidaknya ada dua hal yang unik seputar sarana transportasi di Batam.

1. Taxi di batam rata-rata belum menerapkan sistem harga berdasarkan argometer. Jadi harga yang akan kita bayar adalah hasil tawar menawar dengan supir sebelum naik. Dan jangan pernah marah atau sewot jika setelah anda naik, ternyata pak supir masih mempersilahkan penumpang lain dengan tujuan yang sama untuk naik. Kok aneh banget taxinya??? Ya begitulah, taxi di Batam berasa mirip angkot, kecuali anda mengatakan satu kata ke pak sopir; CARTER.

2. Rata-rata orang Batam tak terlalu hapal nama jalan, termasuk juga para supir taxi dan angkot(metro trans). Jadi jika anda hendak ke suatu tempat menggunakan taxi, lebih baik menyebut nama tempatnya langsung dari pada sekedar menyebut nama jalan. Misalnya anda hendak ke plasa telkom di Pelita Batam, lebih baik anda bilang langsung ke supirnya “Plasa Telkom, Bang!”, daripada bilang “Jalan Teuku Umar, Bang!” . Yang ada si abang supir malah mengernyitkan jidat. 🙂

Udah ngerti kan? Yuk muter-muter Batam!

Read Full Post »

Older Posts »