Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘wisata bromo’

Di Bromo

Bromo, Probolinggo, Jawa Timur

Ini adalah rangkuman dari Blog Posts JalanKemanaGitu sepanjang tahun 2009 dan 2010. Seru juga ternyata melihat postingan-postingan lawas saya. Geli-geli gimana gitu mbaca style menulis saya zaman dulu, hahaha. Maklum masih abegeh. (ʃ⌣ƪ)

Di awal-awal ngeblog ini saya banyak bercerita tentang pengalaman jalan-jalan saya ke berbagai tempat di Jawa, macam Surabaya, Malang, Bromo, Semarang, Solo, Bandung, hingga Bali.

Berikut listnya dimulai dari awal blog ini berdiri April 2009:

Jembatan Barelang, Ikon Kota di pinggir Kota (Batam)
Menikmati Batam dari Bukit Senyum (Batam)
Must Visit Places in Batam (Batam)
Baju Kurung, Identitas Budaya Melayu (Batam)
Batam Kota atau Kota Batam?? (Batam)
Patung Singa Tak Harus di Singapura (Batam)
Nonton TV Tiga Negara di Batam (Batam)
Suatu Pagi di Tanjung Bemban (Batam)
Rumah Adat Melayu di Kampung Melayu (Batam)
Pantai Wisata Kampung Melayu (Batam)
Mega Wisata Ocarina Batam (Batam)
Batam, Kota 1001 Ruko (Batam)
Camp Vietnam, Wisata Bernilai Sejarah Tinggi (Batam)
Bromo, Pesona Wisata di Atap East Java (Probolinggo, Jawa Timur)
Wisata Bahari Lamongan (Lamongan, Jawa Timur)
Traveling Semarang – Solo (Solo, Jawa Tengah)
Jalan-Jalan Keliling Kota Pahlawan (Surabaya)
Sejuknya Malang Dinginnya Batu (Malang, Jawa Timur)
Sensasi Surabaya – Jakarta PP Nonstop (Jawa)
Fantastic Week In Bandung (Bandung)
Candi Tegowangi (Kediri, Jawa Timur)
Kampung Inggris, Kampung Indonesia Nuansa Inggris (Kediri, Jawa Timur)
Dari Pare melanglang ke Batu (Malang, Jawa Timur)
Nuansa Surga di Pulau Dewata (Bali)
Air Pancur Muka Kuning (Batam)
Backpacker-an Ke Singapura (Singapura)
Kesan Kedua di Air Pancur Muka Kuning (Batam)
Dam Sei Ladi Batam (Batam)
Turi Beach Resort – Merasakan Indahnya Batam (Batam)
Masjid Agung Batam, Oase Di Tengah Kota (Batam)
Fakta Unik Seputar Transportasi di Batam (Batam)
Teh Obeng, Es Teh Rasa Batam (Batam)
Pulau Putri, Putri Cantik Di Perbatasan (Batam)
Yang Tersisa Di Kampung Panau (Batam)
Jalan-Jalan Ke Gunung Bintan (Bintan)
Berwisata Sejarah Ke Pulau Penyengat (Bintan)

Read Full Post »

Bagi kebanyakan mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata alias KKN adalah momok menakutkan. Tapi tidak bagiku. KKN adalah kesempatan bersenang-senang, karena bisa jalan-jalan ke gunung paling bergengsi di tanah Jawa; Gunung Bromo.

Kebetulan KKN-ku diselenggarakan di Kabupaten Probolinggo. Nun di ujung barat daya kabupaten probolinggo inilah Gunung Bromo dan pegunungan Tengger berdiri tegak. Dari desa KKN-ku, Wonomerto, menuju Gunung Bromo hanya berjarak kira-kira satu jam perjalanan dengan mobil.

Maka pada Sabtu 23 Februari 2008, hari terakhir KKN,  aku dan teman-teman sekelompok melanglang ke Bromo. Pukul 02.48 pagi kita ber-24 orang berangkat ke ikon wisata jawa timur itu menggunakan bus mini sewaan. Perjalanan dimulai.

Pukul 03.01
Jalan menuju Bromo yang semula lempeng lurus mulai meliuk-liuk. Menanjak, itu pasti karena ini jalan menuju gunung. Kepalaku mulai terasa pusing, mungkin karena pengaruh perubahan ketinggian dan tekanan udara. Perutku juga mulai terasa mual. Mungkin begini rasanya hamil muda.. :P

Pukul 03.09
Kabut mulai menebal. Dari jendela mobil udah nggak keliatan apa-apa. Putih semua. Padahal semula gelap pekat.

Pukul 03.18
Minibus kita melewati pinggiran jurang. Jurang nan dalam menganga lebar-lebar hanya satu meter di sebelah kanan jalan, dan tak ada pagar pembatas. Menyeramkan sekali. Nggak kebayang kalau supirnya mengantuk… >,<

Pukul 03.30
Akhirnya, sampailah kami di pintu gerbang wisata Gunung Bromo. Begitu turun dari mobil, udara maha dingin langsung menyergap. Awalnya sih masih bisa bertahan, sok cool, sok asik. Tapi makin lama kok makin dingin ya?! Tanya sama bapak-bapak yang jaga pos, ternyata kita berada di ketinggian 2200 meter dpl dengan suhu berkisar 6 derajat celcius. Wew.. itu sama dengan temperatur lemari es!

Kita lantas melanjutkan perjalanan ke puncak bromo dengan berjalan kaki. Lumayan jauh, sekitar 2,5 kilometer. Jarak segitu terasa amat jauh karena harus ditempuh dalam gelap malam dan suhu yang ekstrim. Kalau malas berjalan kaki sebenarnya ada sarana transportasi eksotis; naik kuda. Sepanjang perjalanan ke puncak bromo ada banyak warga tengger yang menyediakan jasa kuda. Bayar tentunya.

Jam 5 teng kami sampai di kaki gunung bromo. Rencananya sih mau melihat sunrise di puncak bromo, tapi gagal total karena matahari sudah keburu muncul. Lagipula puncak dan kawah bromo tengah diselimuti kabut tebal beraroma belerang, sehingga tak memungkinkan didaki. Tapi tak apalah, berfoto di badan gunung bromo saja sudah lebih dari cukup. Gunung bromo dan gunung batok yang bersebelahan memang tampak spektakuler, sayang kalau tak dijadikan background foto. :P Maka kami pun berfoto-foto ria, segala macam pose dicoba sampai memory card camdig yang bergiga-giga penuh dan baterainya lowbat. Puas!!

Menjelang jam 7, kami sarapan di kaki bromo. Di sana banyak mbok-mbok yang jualan popmie dan kopi. Segelas popmie panas cukup membantu mengganjal perut dan menghangatkan badan yang kedinginan.

Di kaki bromo pula ada sebuah pura besar. Bentuknya persis pura-pura di Bali. Tapi bukan karena di bromo banyak bermukim migran asal Bali, tapi karena penduduk asli bromo, suku jawa tengger, mayoritas beragama hindu.

Selesai sarapan kita pun kembali berjalan kaki menuju pos masuk. 2,5 km lagi. Kita berjalan melewati padang pasir yang tadi sudah kita lewati saat masih gelap. Kaldera bromo tampak spektakuler dilihat dari tengah padang pasir. Wajar jika tempat ini menjadi tujuan wisata internasional. Kami sempat beberapa kali berpapasan dengan turis asing yang berkuda ke puncak bromo.

Oya, untuk oleh-oleh jangan lupa membeli serangkai bunga edelweiss yang banyak ditawarkan penjual di sekitar bromo. Cantik, harganya pun murah tergantung keterampilan menawar.

Kalau ke Jawa Timur, mampir ke Bromo ya!

Read Full Post »