Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘jalan-jalan ke singapore’

jalan jalan singapura

PERINGATAN: Tulisan ini (jika dipraktekkan) dapat menyebabkan capek, lelah pada kaki, serangan haus, dan gangguan stamina.

Dalam setahun terakhir saya sudah lima kali jalan-jalan ke Singapura. Dan saking sudah tak tahu lagi jalan-jalan kemana yang GRATIS dan menghibur, sabtu kemarin saya putuskan jalan-jalan mengelilingi kawasan Marina Bay. Bener-bener jalan-jalan. Jalan kaki maksudnya.

Marina Bay atau Teluk Marina adalah sebuah teluk di selatan singapura dan menjadi pusat(downtown) dari negara kota itu. Tahu Merlion Park kan? Tahu gedung kembar tiga Marina Bay Sands kan? Tahu gedung Esplanade kan? Semuanya itu terletak di tepi laut Marina Bay.

(more…)

Read Full Post »

Untuk tulisan saya yang lebih baru tentang Singapura cek di sini.

Singapura memang sangat dekat dengan Batam. Tapi buat aku, orang batam dari kalangan menengah ke bawah, jalan-jalan ke singapura tetap saja pengalaman seru dan nggak bisa sering-sering dilakukan.

Akhir Februari 2010 kemarin, aku dan 4 orang teman travelling ke singapura. Ala backpacker. Nggak seratus persen backpacker sih, karena kami cuma bawa ransel ukuran sedang yang isinya persis kaya’ mau nginep satu malam di rumah temen di kota sebelah. Simple! Kami memang berniat hanya menginap satu malam di singapura. Berangkat sabtu siang, balik ke batam minggu sore.

Sabtu pukul 14:10 kami berangkat dari ferry terminal batam center menuju Harbourfront singapura menggunakan ferry BatamFast. Tiket, kami beli yang PP(Pulang-Pergi) seharga 17,5 dollar. Tiket PP jauh lebih murah daripada tiket sekali jalan. Selain tiket, kita juga harus membayar seaport tax sebesar 7 dollar.

Kami sampai di Harbourfront sekitar 1,5 jam kemudian. Pelabuhan harbourfront ini terhubung langsung dengan Mall Vivo City. Lumayan, sampai-sampai bisa langsung cuci mata. Dari Vivo City kami naik MRT menuju Bugis. MRT(Mass Rapid Transit) adalah kereta api supercepat bawah tanah. Menghubungkan hampir semua wilayah singapura. Keren banget! Jadi ngayal, kapan batam bisa punya transportasi masal kayak gini.. (miris)

Untuk bisa naik MRT kita harus membeli tiket. Belinya di mesin-mesin serupa ATM sebelum pintu masuk station. Tinggal tentukan tempat tujuan, masukkan uang, keluar deh tiketnya. Tapi, sebelum beli tiket mending kamu pelajari dulu rute MRT dengan seksama. Ini penting, supaya kita nggak kesasar atau keterusan. Peta rute MRT banyak tersebar di mana-mana kok di sekitar station, dan cukup mudah dipahami. Oya, selain membeli tiket sekali jalan seperti di atas, kita juga bisa membeli kartu yang namanya EZLink. Harganya 15 Dollar, depositnya 10 Dollar. Menggunakan EZlink ini lebih mudah karena kita nggak perlu bolak balik antri beli tiket. Tarif persekali jalan juga jatuhnya jadi lebih murah. Selain bisa digunakan untuk MRT, EZLink juga bisa digunakan untuk bus, alternatif lain transportasi umum di singapura.

Hanya beberapa menit menunggu, MRT rute hijau menuju bugis tiba. Berebutan kami masuk ke dalam. Berhubung jam pulang kerja, penumpangnya jadi rame banget. Secara fisik, MRT jauh lebih baik dibanding kereta api antar kota di Indonesia (yaiyalah!). Ber-AC, dan ada panduan suara ketika akan tiba di setiap station.

Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Bugis station. Letaknya persis di bawah Mall Bugis Junction. Sepertinya hampir semua station MRT di singapura terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan. Dari station, kami berjalan kaki 1 kilometer-an ke Kampong Glam. Ini merupakan kawasan pemukiman masyarakat muslim singapura. Penginapan kami terletak di jalan Kubor(serem amat namanya?) Kampong Glam, yakni ABC Backpacker Hostel. Aku mendapat info penginapan ini dari internet.

Penginapan kami terhitung murah jika dibandingkan tempat-tempat menginap lain di singapura. Fasilitasnya juga lengkap, cuma satu yang kurang; kenyamanan tempat tidur. Tempat tidurnya tingkat, persis tempat tidur di barak angkatan.

Dengan membayar 21 SGD per kepala, kami mendapatkan fasilitas tempat tidur selama sehari, free towel and blanket, free internet access, dan free breakfast sepuasnya. Satu kamar berisi 3 tempat tidur tingkat, dan karena kami berlima,maka masih tersisa 1 tempat tidur yang tak terisi sampai kami check out.

Tak berlama-lama di hostel, cuma mandi, kami langsung cabut ke the ‘most’ must visit place kalo ke singapura; Merlion. Dari bugis kami naik MRT ke Rafless Place. Rafless Place inilah pusat kota singapura. Gedung-gedungnya tinggi menjulang, khas kota modern internasional. Dari Rafless Place station kami jalan kaki hampir 1 kilometer ke patung merlion melewati hotel The Fullerton yang megah bak istana dewa-dewi yunani.

Merlion Park letaknya persis di sebelah Esplanade Bridge, di semenanjung kecil menghadap ke Marina Bay atau teluk Marina. Letaknya sangat strategis. Dikelilingi oleh pesona kemegahan kota modern singapura. Di belakang kita ada gedung-gedung pencakar langit  yang otomatis jadi background foto kalau kita mau foto-foto sama patung merlion. Di sebelah kanan nun di seberang laut ada gedung opera Esplanade dengan bentuknya yang khas(konon mirip durian). Agak ke kanannya dikit ada Singapore Flyer. Apa sih bahasa indonesianya? Itu lho giant wheel dengan diameter 165 meter. Ini adalah giant wheel terbesar di dunia. Keren! Persis di depan kita, hampir menutupi teluk adalah Marina Bay Sands. Integrated Resort & Casino yang sedang tahap pembangunan itu tampak spektakuler dengan gedung kembar tiganya. Di puncak gedungnya tengah dibangun sesuatu yang aku rasa kelak akan berbentuk serupa perahu nabi Nuh. Gedung kembar tiga ini tampak paling mencolok kalau dilihat dari batam.

Setelah puas jeprat-jepret sana sini, kami balik ke hostel di bugis. Jam 12 malam, dengan MRT terakhir malam itu. Khusus malam minggu MRT beroperasi sampai jam 12. Kami naik last train, hampir telat. Telat dikiiit aja, alamat pulang jalan kaki. (_ _’)

Sampai di bugis bukannya langsung masuk kamar terus tidur, anak-anak malah pada milih nongkrong dulu di rumah makan Arabian style di north bridge road Kampung Glam, persis di seberangnya Masjid Sultan. Masjid sultan ini keren lho. Kubahnya emas. Nggak tau emas beneran apa warnanya doang. Yang jelas aku dua kali sholat di situ. :)

***

Hari Minggu. Petualangan kembali dimulai. Bugis Street menjadi tujuan pertama kami. Letaknya persis di seberang jalan Bugis Junction. Konon di sinilah pusat belanja murah di singapura. Konsep bugis street sebenarnya mirip kaki lima, cuma lebih bersih dan tertata. Barang-barangnya juga lumayan bagus-bagus dan murah-murah, serta bisa ditawar. Baju, celana, jam tangan, tas, dompet, pernak-pernik khas singapura buat oleh-oleh semua ada. Di sini aku membeli celana pendek seharga 15 Dollar, jam tangan 15 dollar, serta beberapa oleh-oleh seharga 10 dollar. Hemat beib. :)

Puas belanja di bugis street kami ngadem di Bugis Junction. Lumayan sambil cuci mata. Setelah itu langsung ke bawah, ke bugis station, bersiap naik MRT menuju ke Orchard Road. Inilah dia kawasan paling populer di singapura. Singapore ya Orchard Road, begitu kata Raditya Dika si kambing jantan.

Seperti yang saya bilang di atas, hampir semua station MRT di singapura berada atau terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan. Maka Orchard station pun langsung terhubung ke Mall Ion Orchard. Arsitektur Mallnya keren. Blink-blink gitu. Outlet-outlet papan atas berjejer rapi di Ion; louis vuitton, prada, dior dll.

Dari Ion, kami menyeberang ke Lucky Plaza. Niatnya sih mau makan siang di sini. Tapi niat itu terpaksa batal karena lucky plaza rameeeeeeeeeeeeeeeee banget!! Mungkin karena akhir pekan. O ya, lucky plaza ini terkenal dengan barang-barang elektronik murah. Tapi hati-hati ya, karena denger-denger banyak kasus penipuan terjadi di sini (baca di kaskus)

Dari rrchard kami meluncur lagi ke tempat kedatangan Vivo City. Dari sini rencananya kita mau nyebrang ke Pulau Sentosa. Di Vivo City ada station khusus yang bisa mengantarkan kita ke pulau sentosa. Ke sentosa ternyata deket banget. Dari top floor Vivo City bisa kelihatan betapa dekatnya sentosa. Hanya sepelemparan batu. 1 kilometeran saja.

Sayang beribu sayang, karena didera kelelahan yang teramat sangat(lebay), aku memilih tak ikutan ke Sentosa. Lagipula hari sudah beranjak sore, semakin dekat dengan waktunya pulang ke batam. Kalau cuma sejam dua jam, sempat ngapain di Sentosa? Akhirnya kami hanya duduk-duduk di top floor Vivo City. Melepas lelah, nyelupin kaki di kolam,  menikmati semilir angin laut singapura.

Dan travelling kami kali ini di singapura benar-benar berakhir di Vivo City. Agak sorean, kami beringsut ke harbourfront. Cek-in membayar tax 20 dollar, masuk ferry, kemudian meluncur pulang ke batam. Tak  semua tempat menarik kami sambangi memang. Mungkin lain kali. Travelling ke singapura berikutnya aku pengen temanya “Sehari di Pulau Sentosa”. Pasti menarik. Tunggu aja!

Read Full Post »