Feeds:
Posts
Comments

Senin kemarin untuk pertama kalinya saya jalan-jalan ke Pasar Seken Aviari.

Apa?! Pasar seken???

Iya. Ceritanya  teman saya ada yang lagi butuh jas/blazer, tapi punya budget terbatas. Tahu sendiri kan harga jas atau blazer baru itu nggak ada yang murah. Entah bagaimana terbersitlah ide cemerlang mencari jas/blazer seken. Dan tempat yang paling lengkap tak lain adalah pasar seken aviari.

Pasar seken aviari ini terletak di komplek aviari, batuaji, batam. Berupa beberapa blok ruko dan lapak-lapak kaki lima yang selurunya menjual barang-barang second hand alias seken. Total ada kali 100 toko dan lapak.

Apa saja yang dijual? Lengkap. Yang dominan tentuk produk fashion. Busana laki-laki dan perempuan tersedia lengkap sampai ke pakaian-pakaian dalam segala. Saya sampai nggak habis pikir, apa ada yang mau beli kolor dan beha bekas? -___-

Selain itu dijual juga aneka sepatu – dari boots sampai hi-heel, aneka tas – dari tas tangan sampai koper, seprei, gorden, pakaian dan peralatan olahraga, lemari, sampai kursi refleksi. Semua barang-barang seken tersebut dipasok dari singapura

Soal harga, sangatlah miring, tergantung kepandaian menawar. Saya yang nggak pintar nawar aja kemarin bisa dapat blazer unyu kondisi 95% dengan harga cuma 25% dari harga baru(taksiran saya). Adik saya malah dapat blazer unyuatu(unyu dan sesuatu) dengan harga cuma 30ribu!

Sejauh ini saya dan adek sepakat; yang layak dibeli di sini adalah pakaian-pakaian lapis kedua seperti jas, blazer, jaket atau mantel. Kalau baju lapis pertama mm rasanya agak gimana gitu.. secara kita kan nggak tahu pemilik pertama orangnya kaya’ gimana. Jangan-jangan dia mengidap kadas/kurap/eksim/panu stadium 4…..

Yaa walaupun barang-barang di sini asalnya dari negara maju, tidak menutup kemungkinan kan orang sana punya penyakit kulit.

Selamat berbelanja!

Di post sebelumnya saya sudah cerita tentang betapa indahnya Pantai Trikora di pesisir timur pulau bintan. Pasir putih, laut biru, batu granit, semuanya indah tingkat dewa. Namun rupanya ada ‘gangguan’ yang saya alami sepulang dari trikora. Gangguan yang disebabkan oleh penunggu pantai trikora..

Penunggu yang saya maksud adalah binatang imut-imut bernama agas. Agas adalah sejenis serangga terbang berukuran kecil yang kerap terdapat di kawasan pantai. Kalau kita jalan-jalan ke pantai, agas ini suka hinggap dan menggigit kulit kita. Gigitannya sih tidak sakit, tapi bekas gigitannya itu loh – nauzubillah gatalnya. Makin digaruk makin gatal, sampai luka-luka.

Rasa gatal gigitan agas ini tak hilang sampai berhari-hari. Saya saja, sudah 6 hari meninggalkan pantai trikora tapi masih gatal-gatal. Rasa gatalnya kambuhan, muncul sewaktu-waktu sesuka hati, termasuk ketika tidur malam. Mengganggu sekali! Baru kali ini saya merasakan rasa gatal yang menyiksa.

Bekas gigitan agas yang semula bentol biasa seperti digigit nyamuk, lama kelamaan akan menjadi merah dan akhirnya menghitam. Bekas hitam ini, kata emak saya, tidak akan hilang sampai bertahun-tahun loh. Kasian kan kalo yang digigit perempuan berkulit mulus melepak.. ƪ(‾ε‾“)ʃ

Sekedar saran buat yang mau jalan-jalan ke pantai trikora, gunakanlah lotion anti nyamuk atau minyak tawon sebelum bermain di pantai. Dari hasil googling, cara ini ampuh buat sebagian orang. Tapi kalau mau lebih aman lagi, ya gunakan saja baju lengan panjang dan celana panjang selama di pantai.

Satu hal, keluhan rasa gatal akibat gigitan agas ini tidak dialami semua orang. Heru yang bareng saya ke trikora misalnya, tidak mengalami keluhan gatal-gatal sama sekali. Sepertinya hanya berdampak pada orang yang berdarah manis.

Dan dari hasil googling, pantai-pantai indah di Belitung rupanya juga ditunggui oleh hewan yang sama. So, hati-hati aja kalau anda mau ngetrip ke sana. Yah, pantai bagus terkadang harus dibayar mahal…

Pengalaman orang-orang yang menderita digigit agas bisa dibaca juga di sini, di situ dan di sana.

Met jalan-jalan!

Awal pekan kemarin untuk kedua kalinya saya jalan-jalan ke Pantai Trikora. Dua kali ke pantai ini, dua kali pula saya dibuat terpesona oleh keindahannya.

Awal tahun lalu sebenarnya saya sudah pernah ke Trikora. Waktu itu saya menginap di Bintan Cabana Beach Resort. Dan waktu itu saya benar-benar terpesona oleh keindahan pantai trikora. Pasir putihnya, laut birunya, batu granitnya, semuanya memukau! Dan kemarin lagi-lagi saya dibuat terpukau. Saya dan Heru menemukan bagian pantai trikora yang lebih indah dari Bintan Cabana Beach Resort. Indahnya keterlaluaaaan!!

Secara umum, Pantai Trikora adalah nama pantai yang membentang di sepanjang pesisir timur Pulau Bintan. Belasan kilometer panjangnya, mungkin lebih. Saya sempat menjelajah mulai dari kawasan Kawal di selatan, sampai ke Bukit Kursi Resort di utara. Sebenarnya masih berkilo-kilo meter lagi ke utara, tapi tidak sempat saya jelajahi.

Karena begitu panjangnya, kondisi pantai trikora berbeda-beda di setiap tempat. Ada bagian yang biasa aja, ada juga yang baguuuuusss banget! Ruas-ruas pantai yang bagus biasanya sudah dibangun menjadi resort wisata, contohnya Nostalgia Yasin Bungalow dan Bintan Cabana Beach Resort.

Beruntung kemarin saya dan Heru menemukan ruas pantai trikora yang belum dijadikan resort, tapi baguuuss banget. Lokasinya, kalau dari arah Kawal, terletak persis sebelum Bukit Kursi Resort. Secara administratif masuk wilayah desa Malang Rapat, kecamatan Gunung Kijang, kabupaten Bintan.

Saking indahnya, saya dan Heru sampai bela-belain dua kali lho ke sini pada hari berbeda. Padahal letaknya jauh banget, 40 km dari Tanjung Pinang.

Pantai yang saya kunjungi ini punya segalanya: pasir putih seputih hatiku, laut biru nan bening, serta batuan granit berukuran besar kaya’ di pulau Belitung. Ada juga pondok-pondok kecil yang bisa disewa kalau gak mau berjemur matahari.

Saat air laut pasang, muncul beting-beting pasir di tengah laut yang berkilauan diterpa sinar matahari. Indaah banget. Pasti bagus buat tempat foto prewed. #eh

Akhirul kalam, maha suci Allah yang menciptakan pantai seindah ini. Kalau, Bintan saja seindah ini, Belitung dan Anambas pasti lebih indah lagi. Ahh jadi pengen… (´⌣`ʃƪ)

NB:

Meski indah luar biasa, sebenarnya pantai trikora berada di bawah bayang-bayang ancaman. Yaitu limbah oli/minyak yang dibuang oleh kapal-kapal di laut sekitar pulau bintan. Saya dua kali menemukan sisa-sisa oli tersebut mengotori beberapa bagian pantai. Sayang sekali. Semoga yang melakukan diberi hidayah oleh Allah Swt. (˘ʃƪ˘)

Satu-satunya sumber informasi lengkap yang saya dapat tentang Air Terjun Gunung Lengkuas adalah sebuah artikel di batam.tribunnews.com. Artikel itulah yang memotivasi saya selasa kemarin jauh-jauh mencari air terjun ini.

Sempat sedikit nyasar juga kemarin, lantaran tak ada satu pun petunjuk jalan yang memandu kami ke air terjun ini. Alhamdulillah ada GPS yang tingkat akurasinya 100%. GPS = Guidance Penduduk Setempat. Muahahaha

Gunung Lengkuas terletak antara Tanjung Pinang dan Kijang. Kalau kita dari arah Tanjung Pinang, begitu sampai di pertigaan sebelum masjid Nurul Huda kelurahan gunung lengkuas, beloklah ke kanan. Lurus sekitar 500 meter, kemudian jika anda melihat plang bertuliskan Gang Wisata di kanan jalan, beloklah kiri di sebuah jalan tanah. Dari sini jarak ke air terjun tinggal sekitar 1 km.

Kendaraan tidak bisa dibawa sampai ke air terjun. Yang bawa mobil atau motor parkirkan saja di sebuah rumah kosong sebelum masuk kebun jeruk. Setelah itu lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 800 meter. Buat yang pakai motor, harap dikunci dobel ya.

Gunung Lengkuas sebenarnya hanyalah sebuah bukit. Tingginya aja cuma 200 meter. Jadi, dengan ‘gunung’ setinggi itu kebayang kan air terjun yang dihasilkan? Jelas mustahil bisa sebesar air terjun Grojogan Sewu yang sumbernya saja dari Gunung Lawu setinggi 3.265 meter.

Debit air terjun gunung lengkuas kecil saja, mengalir menuruni bebatuan besar berbentuk seperti anak tangga setinggi 20 meter. Kalau di Jawa Timur, arsitektur air terjun ini mirip-mirip air terjun Irenggolo. Airnya bersih karena berasal langsung dari hutan.

Menurut saya, air terjun gunung lengkuas ini jauh lebih bagus daripada air terjun gunung bintan yang saya kunjungi sehari sebelumnya. Meski airnya sama-sama kecil, tapi air terjun gunung lengkuas lebih nyeni.

Tips buat yang pengen maen ke sini, datanglah setelah hujan deras atau pada musim penghujan, supaya air terjunnya melimpah dan kita bisa berenang di kolam air terjunnya.

Met jalan-jalan! :)

Yay! Senin-selasa kemarin saya dan Heru, teman kantor, jalan-jalan ke Pulau Bintan. Seluruh pulau bintan kami jelajahi, dari Tanjung Uban sampai ke Kijang. Naik apa? Boncengan naik motor yang saya bawa dari Batam.

Kami menyeberang ke Bintan lewat pelabuhan RORO Punggur. Ada empat kali keberangkatan ferry RORO dari Batam ke Tanjung Uban setiap hari: Jam 8:00, jam 11:00, jam 13:00, dan jam 16:00. Kami menyeberang dengan ferry jam 11:00, alhasil tiba di Tanjung Uban tepat saat azan zuhur berkumandang. Oya, Tanjung Uban merupakan kota kecil di ujung barat pulau Bintan.

Sekedar wawasan buat yang belum tahu, Pulau Bintan adalah salah satu pulau utama di provinsi Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat dua daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Bintan dan Kota Tanjung Pinang. Di Pulau Bintan terdapat pula sebuah kawasan wisata eksklusif bernama Lagoi. Lagoi ini kondang di kalangan turis mancanegara karena panorama pantainya yang mempesona. Dan karena eksklusif (baca: mahal) kami tidak mampir ke Lagoi. Bintan bukan cuma lagoi kan?

So, tempat yang kami kunjungi pertama adalah Pantai Sakera. Letaknya di kelurahan Tanjung Uban Utara, 10 menit dari kota Tanjung Uban. Pantainya bagus, mirip-mirip Pantai Nongsa di Batam. Bedanya pasir pantai sakera lebih putih.

Dari sakera kami kemudian meluncur 35 km ke timur, menuju Air Terjun Gunung Bintan. Sayang, sama seperti pada kunjungan saya sebelumnya, air terjun di kaki Gunung Bintan ini tetap jelek (⌣́_⌣̀) Debit airnya itu lho, keciiil banget kaya’ pipis kuda. Padahal abis hujan..

Dari Gunung Bintan kami meluncur lagi puluhan kilometer ke pesisir timur pulau bintan, yakni Pantai Trikora. Wuhuu.. Pantai ini hadirin, subhanallah banget bagusnya. Tak percuma datang jauh-jauh bisa demi pantai sebagus ini.

Menjelang maghrib kami meluncur ke kota Tanjung Pinang. Sejam perjalanan dari pantai trikora. Di kota sebenarnya banyak pilihan hotel murah yang bertebaran di sekitar pelabuhan Sri Bintan Pura. Tapi kami pilih menginap di tempat yang jauh lebih nyaman; kosan teman. Muahahaha

Hari kedua, kami jalan-jalan ke Air Terjun Gunung Lengkuas. Gunung Lengkuas ini letaknya 25 menit dari Tanjung Pinang arah ke Kijang. Alhamdulillah, air terjunnya lebih bagus daripada air terjun gunung bintan yang kaya’ pipis kuda. Air terjun gunung lengkuas ini mirip pipis gajah. #eh

Abis dari gunung lengkuas, kami balik lagi ke…… pantai trikora! Yup, kunjungan ke pantai trikora hari sebelumnya masih berasa kurang hadirin. Serasa tak ingin pisah gitu. Air birunya, pasir putihnya, batu granitnya, semua indah luar biasa dan bikin jatuh cinta.. (´⌣`ʃƪ) Di Batam gak ada pantai sebagus ini. Maha suci Allah yang menciptakan pantai seindah trikora..

Dari trikora kami pun meluncur pulang ke Batam via Tanjung Uban. Penjelajahan pulau Bintan dari ujung barat ke timur, utara ke selatan itu ternyata cuma butuh waktu 24 jam! Tiba di bintan tengah hari, meninggalkan bintan juga tepat tengah hari. Weekend dijamin cukup deh untuk menjelajah bintan.

Yang tertarik mengikuti jejak, foto-foto lengkap & cerita detil hadir di postingan berikutnya yah. Dadah! (ɔ ˘⌣˘)/

Lokasi: Pantai Panau, Batam

Waktu: Suatu Sore

Waktu jalan-jalan ke Jawa Timur akhir tahun lalu, saya sempat mengunjungi situs arkeologi Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Di Trowulan ini terdapat banyak situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit. Kebanyakan berupa candi-candi kuno. Saya sempat mampir di dua candi: Candi Brahu & Gapura Wringin Lawang. Berikut liputannya.

Candi Brahu


Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Lokasinya 700 meter dari jalan raya Mojokerto-Jombang. Kalau anda dari arah Jombang, beloklah ke kiri di perempatan setelah SMPN 2 trowulan.

Candi brahu berukuran 22,5 x 18 meter, dengan tinggi mencapai 20 meter. Dari penelahaan struktur dan artefak, ditarik kesimpulan bahwa candi brahu merupakan candi agama budha. Nah, berbeda dari umumnya candi-candi kuno yang dibangun dari batu andesit, candi brahu (dan candi-candi lain di trowulan) dibangun dari bata merah. Agak disayangkan, karena menghilangkan kesan kuno dan purba. Apalagi candi dari bata merah begini tak memiliki relief-relief cerita di badan candi.

Tapi meski begitu, umur candi brahu sudah lumayan tua loh. Diperkirakan dibangun pada abad 15 Masehi. Sebagian pakar sejarah malah menduga candi brahu berusia jauh lebih tua. Sebab prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 939 masehi, sudah menyebut-nyebut candi brahu yang fungsinya sebagai tempat pembakaran(krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya.

Terdapat sebuah pintu atau lubang di tengah-tengah badan candi brahu. Tapi jangan harap bisa mencapai pintu tersebut, karena naik ke badan candi saja kita sudah dilarang. Mungkin agar kita nggak kejatuhan batuan candi yang memang tampak rapuh. Candi brahu pernah dipugar antara tahun 1990 sampai 1995.

Gapura Wringin Lawang


Dari candi brahu, saya lanjut ke Gapura Wringin Lawang. Sisa kerajaan majapahit yang satu ini terletak di Dukuh Wringinlawang, Desa Jati Pasar, Trowulan. Sekitar 3 km dari candi brahu.

Bentuk wringin lawang persis gapura candi bentar pura-pura di bali. Hanya, wringin lawang berukuran lebih besar, dan tentu saja berumur lebih tua. Belum diketahui pasti kapan wringin lawang dibangun, tapi diperkirakan pada abad ke-14 masehi. Sebagaimana candi brahu, gapura wringin lawang dibuat dari bata merah. Berukuran 13 x 11 meter dengan tinggi 15,5 meter.

Mengenai fungsi wringin lawang, ada beragam pendapat mengemuka. Salah satunya mengatakan wringin lawang berfungsi sebagai pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada. Yup, ksatria yang mengikrarkan sumpah palapa itu. Tapi kebanyakan sejarawan beranggapan gapura ini adalah pintu masuk menuju komplek bangunan penting di ibu kota Majapahit, tanpa bisa memastikan secara spesifik bangunan apa itu.

Saat ini lokasi wringin lawang dikepung oleh sawah dan ladang di tiga sisi; utara, timur dan selatan. Waktu mampir ke sini, saya ‘dihibur’ oleh pemandangan petani membajak ladangnya dengan sapi. Sungguh pemandangan langka. Secara hari gini rata-rata petani udah mbajak pake quick. *eh

Selain candi brahu dan wringin lawang sebenarnya masih buanyak lagi situs bersejarah di trowulan yang bisa kita explore. Beberapa yang menarik di antaranya candi tikus, candi bajang ratu, dan kolam segaran.

Karena kekayaan situs arkeologinya, sejak 2009 pemerintah telah mengajukan agar Trowulan dijadikan Situs Warisan Dunia UNESCO. Semoga segera terwujud deh. Amien.