Feeds:
Posts
Comments

Satu-satunya sumber informasi lengkap yang saya dapat tentang Air Terjun Gunung Lengkuas adalah sebuah artikel di batam.tribunnews.com. Artikel itulah yang memotivasi saya selasa kemarin jauh-jauh mencari air terjun ini.

Sempat sedikit nyasar juga kemarin, lantaran tak ada satu pun petunjuk jalan yang memandu kami ke air terjun ini. Alhamdulillah ada GPS yang tingkat akurasinya 100%. GPS = Guidance Penduduk Setempat. Muahahaha

Gunung Lengkuas terletak antara Tanjung Pinang dan Kijang. Kalau kita dari arah Tanjung Pinang, begitu sampai di pertigaan sebelum masjid Nurul Huda kelurahan gunung lengkuas, beloklah ke kanan. Lurus sekitar 500 meter, kemudian jika anda melihat plang bertuliskan Gang Wisata di kanan jalan, beloklah kiri di sebuah jalan tanah. Dari sini jarak ke air terjun tinggal sekitar 1 km.

Kendaraan tidak bisa dibawa sampai ke air terjun. Yang bawa mobil atau motor parkirkan saja di sebuah rumah kosong sebelum masuk kebun jeruk. Setelah itu lanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 800 meter. Buat yang pakai motor, harap dikunci dobel ya.

Gunung Lengkuas sebenarnya hanyalah sebuah bukit. Tingginya aja cuma 200 meter. Jadi, dengan ‘gunung’ setinggi itu kebayang kan air terjun yang dihasilkan? Jelas mustahil bisa sebesar air terjun Grojogan Sewu yang sumbernya saja dari Gunung Lawu setinggi 3.265 meter.

Debit air terjun gunung lengkuas kecil saja, mengalir menuruni bebatuan besar berbentuk seperti anak tangga setinggi 20 meter. Kalau di Jawa Timur, arsitektur air terjun ini mirip-mirip air terjun Irenggolo. Airnya bersih karena berasal langsung dari hutan.

Menurut saya, air terjun gunung lengkuas ini jauh lebih bagus daripada air terjun gunung bintan yang saya kunjungi sehari sebelumnya. Meski airnya sama-sama kecil, tapi air terjun gunung lengkuas lebih nyeni.

Tips buat yang pengen maen ke sini, datanglah setelah hujan deras atau pada musim penghujan, supaya air terjunnya melimpah dan kita bisa berenang di kolam air terjunnya.

Met jalan-jalan! :)

Yay! Senin-selasa kemarin saya dan Heru, teman kantor, jalan-jalan ke Pulau Bintan. Seluruh pulau bintan kami jelajahi, dari Tanjung Uban sampai ke Kijang. Naik apa? Boncengan naik motor yang saya bawa dari Batam.

Kami menyeberang ke Bintan lewat pelabuhan RORO Punggur. Ada empat kali keberangkatan ferry RORO dari Batam ke Tanjung Uban setiap hari: Jam 8:00, jam 11:00, jam 13:00, dan jam 16:00. Kami menyeberang dengan ferry jam 11:00, alhasil tiba di Tanjung Uban tepat saat azan zuhur berkumandang. Oya, Tanjung Uban merupakan kota kecil di ujung barat pulau Bintan.

Sekedar wawasan buat yang belum tahu, Pulau Bintan adalah salah satu pulau utama di provinsi Kepulauan Riau. Di pulau ini terdapat dua daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Bintan dan Kota Tanjung Pinang. Di Pulau Bintan terdapat pula sebuah kawasan wisata eksklusif bernama Lagoi. Lagoi ini kondang di kalangan turis mancanegara karena panorama pantainya yang mempesona. Dan karena eksklusif (baca: mahal) kami tidak mampir ke Lagoi. Bintan bukan cuma lagoi kan?

So, tempat yang kami kunjungi pertama adalah Pantai Sakera. Letaknya di kelurahan Tanjung Uban Utara, 10 menit dari kota Tanjung Uban. Pantainya bagus, mirip-mirip Pantai Nongsa di Batam. Bedanya pasir pantai sakera lebih putih.

Dari sakera kami kemudian meluncur 35 km ke timur, menuju Air Terjun Gunung Bintan. Sayang, sama seperti pada kunjungan saya sebelumnya, air terjun di kaki Gunung Bintan ini tetap jelek (⌣́_⌣̀) Debit airnya itu lho, keciiil banget kaya’ pipis kuda. Padahal abis hujan..

Dari Gunung Bintan kami meluncur lagi puluhan kilometer ke pesisir timur pulau bintan, yakni Pantai Trikora. Wuhuu.. Pantai ini hadirin, subhanallah banget bagusnya. Tak percuma datang jauh-jauh bisa demi pantai sebagus ini.

Menjelang maghrib kami meluncur ke kota Tanjung Pinang. Sejam perjalanan dari pantai trikora. Di kota sebenarnya banyak pilihan hotel murah yang bertebaran di sekitar pelabuhan Sri Bintan Pura. Tapi kami pilih menginap di tempat yang jauh lebih nyaman; kosan teman. Muahahaha

Hari kedua, kami jalan-jalan ke Air Terjun Gunung Lengkuas. Gunung Lengkuas ini letaknya 25 menit dari Tanjung Pinang arah ke Kijang. Alhamdulillah, air terjunnya lebih bagus daripada air terjun gunung bintan yang kaya’ pipis kuda. Air terjun gunung lengkuas ini mirip pipis gajah. #eh

Abis dari gunung lengkuas, kami balik lagi ke…… pantai trikora! Yup, kunjungan ke pantai trikora hari sebelumnya masih berasa kurang hadirin. Serasa tak ingin pisah gitu. Air birunya, pasir putihnya, batu granitnya, semua indah luar biasa dan bikin jatuh cinta.. (´⌣`ʃƪ) Di Batam gak ada pantai sebagus ini. Maha suci Allah yang menciptakan pantai seindah trikora..

Dari trikora kami pun meluncur pulang ke Batam via Tanjung Uban. Penjelajahan pulau Bintan dari ujung barat ke timur, utara ke selatan itu ternyata cuma butuh waktu 24 jam! Tiba di bintan tengah hari, meninggalkan bintan juga tepat tengah hari. Weekend dijamin cukup deh untuk menjelajah bintan.

Yang tertarik mengikuti jejak, foto-foto lengkap & cerita detil hadir di postingan berikutnya yah. Dadah! (ɔ ˘⌣˘)/

Lokasi: Pantai Panau, Batam

Waktu: Suatu Sore

Waktu jalan-jalan ke Jawa Timur akhir tahun lalu, saya sempat mengunjungi situs arkeologi Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Di Trowulan ini terdapat banyak situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit. Kebanyakan berupa candi-candi kuno. Saya sempat mampir di dua candi: Candi Brahu & Gapura Wringin Lawang. Berikut liputannya.

Candi Brahu


Candi Brahu terletak di Desa Bejijong, Trowulan. Lokasinya 700 meter dari jalan raya Mojokerto-Jombang. Kalau anda dari arah Jombang, beloklah ke kiri di perempatan setelah SMPN 2 trowulan.

Candi brahu berukuran 22,5 x 18 meter, dengan tinggi mencapai 20 meter. Dari penelahaan struktur dan artefak, ditarik kesimpulan bahwa candi brahu merupakan candi agama budha. Nah, berbeda dari umumnya candi-candi kuno yang dibangun dari batu andesit, candi brahu (dan candi-candi lain di trowulan) dibangun dari bata merah. Agak disayangkan, karena menghilangkan kesan kuno dan purba. Apalagi candi dari bata merah begini tak memiliki relief-relief cerita di badan candi.

Tapi meski begitu, umur candi brahu sudah lumayan tua loh. Diperkirakan dibangun pada abad 15 Masehi. Sebagian pakar sejarah malah menduga candi brahu berusia jauh lebih tua. Sebab prasasti yang ditulis Mpu Sendok pada tahun 861 Saka atau 939 masehi, sudah menyebut-nyebut candi brahu yang fungsinya sebagai tempat pembakaran(krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya.

Terdapat sebuah pintu atau lubang di tengah-tengah badan candi brahu. Tapi jangan harap bisa mencapai pintu tersebut, karena naik ke badan candi saja kita sudah dilarang. Mungkin agar kita nggak kejatuhan batuan candi yang memang tampak rapuh. Candi brahu pernah dipugar antara tahun 1990 sampai 1995.

Gapura Wringin Lawang


Dari candi brahu, saya lanjut ke Gapura Wringin Lawang. Sisa kerajaan majapahit yang satu ini terletak di Dukuh Wringinlawang, Desa Jati Pasar, Trowulan. Sekitar 3 km dari candi brahu.

Bentuk wringin lawang persis gapura candi bentar pura-pura di bali. Hanya, wringin lawang berukuran lebih besar, dan tentu saja berumur lebih tua. Belum diketahui pasti kapan wringin lawang dibangun, tapi diperkirakan pada abad ke-14 masehi. Sebagaimana candi brahu, gapura wringin lawang dibuat dari bata merah. Berukuran 13 x 11 meter dengan tinggi 15,5 meter.

Mengenai fungsi wringin lawang, ada beragam pendapat mengemuka. Salah satunya mengatakan wringin lawang berfungsi sebagai pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada. Yup, ksatria yang mengikrarkan sumpah palapa itu. Tapi kebanyakan sejarawan beranggapan gapura ini adalah pintu masuk menuju komplek bangunan penting di ibu kota Majapahit, tanpa bisa memastikan secara spesifik bangunan apa itu.

Saat ini lokasi wringin lawang dikepung oleh sawah dan ladang di tiga sisi; utara, timur dan selatan. Waktu mampir ke sini, saya ‘dihibur’ oleh pemandangan petani membajak ladangnya dengan sapi. Sungguh pemandangan langka. Secara hari gini rata-rata petani udah mbajak pake quick. *eh

Selain candi brahu dan wringin lawang sebenarnya masih buanyak lagi situs bersejarah di trowulan yang bisa kita explore. Beberapa yang menarik di antaranya candi tikus, candi bajang ratu, dan kolam segaran.

Karena kekayaan situs arkeologinya, sejak 2009 pemerintah telah mengajukan agar Trowulan dijadikan Situs Warisan Dunia UNESCO. Semoga segera terwujud deh. Amien.

Pertama-tama, terima kasih kepada Ocarina Batam untuk voucher gratisnya :)

Kedua-dua, bagi anda yang memiliki anak kecil sampai usia 10 tahun, inilah tempat yang pas untuk menyenangkan hati anak-anak anda: Waterpark Ocarina.

Waterpark Ocarina tampaknya didesain memang untuk anak-anak. Wahana-wahana yang dibangun, kedalaman kolam, semua dibuat ukuran anak-anak. Asal tahu saja, kolam di waterpark ocarina paling dalam cuma selutut orang dewasa! Jadi anda yang sudah dewasa jangan berharap terlalu banyak ya, hehe.

Tapi air yang cuma selutut itu ternyata ada gunanya. Anda jadi tidak perlu repot mengawasi terus anak anda, karena dia nggak bakalan tenggelam. Biasanya ibu-ibu nih yang suka. Anak-anaknya disuruh berenang, emak-emaknya bisa ngobrol deh sampe puass (untuk tidak mengatakan ngrumpi) *kabur*

Tak seperti waterpark top 100 atau dutamas, waterpark ocarina tidak memiliki seluncuran tinggi.  Adanya cuma seluncuran biasa setinggi 3 meter yang boleh dinikmati orang dewasa. Plus beberapa seluncuran lain khusus anak-anak (tapi saya nyobain juga sih, haha).

Tidak adanya seluncuran tinggi ini juga baik, karena menghilangkan resiko anak-anak terjatuh dari ketinggian. Adik saya Faris, 8 tahun, malah girang banget di waterpark ocarina nggak ada seluncuran tinggi. Soalnya kalo ada pasti dia saya paksa naik sampai nangis-nangis, hahaha.

Oya, kalau mau ke sini datanglah sepagi mungkin ketika waterparknya masih sepi. Seperti yang kami lakukan kemarin, dari datang sampai pulang cuma ada saya dan adik berdua di waterpark seluas 1,5 hektar itu. Jadi berasa waterpark pribadi. :D

Yang sayang anak ayo ke waterpark ocarina. Buka setiap hari sampai pukul 19.00. Tarif masuknya flat, cuma Rp.25000/orang.

Sayang anak, sayang anak.. :)

Liburan tahun baru usai sudah. Teman-teman pada ke mana nih? Kalau saya sederhana, liburan kemarin 100% saya habiskan bersama keluarga.

Pas malam tahun baru, saya, emak, bapak, sepupu, sampe keponakan nonton kembang api di dua tempat berbeda. Pertama di pantai batu merah, batam. Dari sini kami menonton pesta kembang apinya negara singapura. Kebetulan batu merah berhadapan langsung dengan marina bay, tempat pesta kembang api Singapura dilangsungkan.

Berhubung waktu singapura satu jam lebih cepat dari batam, maka baru jam 23.00 WIB kembang api di negara kecil itu sudah meledak meletup. Kembang apinya cuma kelihatan imut-imut, secara jauhnya hampir 20 km. Yang lebih heboh justru suaranya yang tak disangka-sangka sampai juga ke Batam. Dar-der-dor kaya’ orang betawi mantu.

Begitu pesta kembang api di singapura selesai, kami langsung meluncur ke tempat lain. Yakni ke perbukitan di belakang kampus Univesitas Batam. Dari sini kami menyaksikan pesta kembang api kota batam yang dipusatkan di alun-alun engku putri batam center. Alhamdulillah yah, dari bukit ini pesta kembang api tampak spektakuler. Malah kami bisa melihat pesta kembang api di botania juga. Sampe bingung mau lihat yang mana satu.

Dan yang paling menguntungkan, begitu pesta kembang api usai kami bisa langsung pulang ke rumah dengan santai. Nggak pake acara kejebak macet berjam-jam sebagaimana mereka yang bela-belain liat kembang api di engku putri. Alhamdulillah gak pake yah. (˘⌣˘)

***

Siangnya, liburan diisi dengan jalan- jalan ke pantai. Tujuan kami adalah pantai melayu, Barelang. Sebenarnya kami sudah dengar berita perihal jalan amblas di barelang, tapi tetap nekad berangkat.

Dan kenekadan itu harus dibayar mahal. Barelang macet paraaah di beberapa titik. Perbaikan jalan dan kepadatan pengunjung menjadi musababnya. Waktu 1,5 jam kami habiskan sia-sia di dalam mobil (ˇ_ˇ) *diketawain orang jakarta*

Pantai Melayu terletak di Kampung Kalat Rempang, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang. 23 km jauhnya dari Jembatan I Barelang. Lokasinya mudah dicapai, karena hanya 1 km dari jalan raya rempang (barelang) belok ke kanan.

Pantainya lumayan, berpasir lembut sepanjang dua kilometer. Dan berhubung kemarin itu hari libur nasional, pengunjung nauzubillah ramainya. Akibatnya, sampah juga nauzubillah banyaknya. Tau sendiri kan gimana joroknya masyarakat kita. Segala macam sampah yang  mereka hasilkan ditinggal begitu saja di tempat mereka duduk. Alhasil keindahan pantai drop sampai 60 %.

Air laut pantai melayu keruh. Nggak tahu kenapa. Bikin saya yang nggak berencana berenang makin nggak niat renang. Sementara ratusan orang lain tampak asyik aja mengapung di laut dengan ban sewaan. Banyak juga yang mencoba banana boat. Tarifnya Rp.20ribu/orang.

Menjelang maghrib kami beranjak meninggalkan pantai melayu. Hal terbaik yang kami lakukan sore itu adalah mengumpulkan semua sampah yang kami hasilkan, dan membawanya pulang. Pantai tidak kami kotori, sehingga kami bisa pulang dengan iman yang utuh. Kebersihan itu sebagian dari iman, bukan?!

Jawa timur tuh kayaaa banget sama situs purbakala berupa candi-candi kuno. Salah satunya adalah komplek Candi Penataran. Candi ini terletak di desa penataran, kecamatan nglegok, kabupaten blitar. Lokasinya hanya 15 menit dari pusat kota blitar.

Candi Penataran memang tak semegah prambanan atau borobudur di jawa tengah, tapi di candi penataran aja kita sudah bisa melihat betapa kreatif dan tingginya kebudayaan bangsa kita di masa lampau.

Waktu jalan-jalan ke sini pertengahan november lalu, baru masuk gerbang aja saya sudah disambut sama dua buah patung buesar di kiri kanan pintu masuk. Bentuknya om-om gendut gitu, setinggi hampir dua meter.

Jalan kaki sekitar 80 meter sampailah saya di candi angka tahun yang bentuknya nyandi banget. Entah kenapa diberi nama candi angka tahun, yang jelas pembangunan candi ini berangka tahun 1291 saka atau sama dengan 1369 masehi. Candi angka tahun ini paling bagus dijadikan background foto. *teteup*

45 meter di belakang candi angka tahun berdiri candi induk. Inilah candi terbesar di komplek candi penataran. Ukurannya 32 x 29 meter, dengan tinggi 7 meter. Badan candi induk ini dipenuhi relief-relief cerita agama hindu. Kita bisa naik sampai ke puncak candi, dan dari atas kita bisa menyapu pandangan ke sekeliling komplek candi penataran.

Komplek candi penataran aslinya difungsikan sebagai tempat pemujaan. Berdasarkan penelitian struktur dan artefak, diketahui komplek candi ini dibangun tidak dalam satu waktu. Pembangunannya dimulai pada abad XII di masa kerajaan kadiri, dan berakhir pada abad XV di masa pemerintahan kerajaan majapahit.

Di bagian paling belakang candi terdapat sebuah petirtaan atau tempat pemandian. Lokasinya agak terpisah di pojok selatan komplek candi. Kita harus menuruni beberapa anak tangga untuk sampai ke sini.

Air petirtaannya jernih sekaleee. Saya sampai pengen nyebur. Tapi batal begitu tahu di dalam kolam pemandian banyak ikan montok hidup. Kebanyakan ikan nila, tapi ada juga ikan mas. Denger-denger, warga sekitar tak ada yang berani menganggu atau mengambil ikan-ikan itu loh. Padahal keliatannya enak.. (˘ڡ˘)

Kalau temen2 jalan ke blitar, mampir candi penataran ya. :)