Feeds:
Posts
Comments

Bagian 1

Gunung Kelud itu unik eh enak. Kita nggak perlu ribet-ribet mendaki dari lereng gunung. Cukup naik mobil atau motor kita sudah bisa sampai di leher gunung. Mirip-mirip gunung telomoyo di jawa tengah. Setelah itu kita tinggal jalan kaki sedikit untuk sampai ke kawah gunung kelud. Di kawah kelud tadinya terdapat sebuah danau, tapi sejak erupsi 2007 berubah menjadi kubah lava yang disebut anak gunung kelud.

Hari ahad dua minggu lalu, saya kehujanan di puncak gajah mungkur gunung kelud. Mantel hujan yang saya pakai sampai tembus, tak kuat menahan derasnya air hujan.

Turun dari gardu pandang di puncak gajah mungkur, saya melanjutkan perjalanan ke mata air panas gunung kelud. Kalau ke gardu pandang kita harus naik sekitar 600 anak tangga, maka untuk ke mata air panas kebalikannya kita harus turun beratus-ratus anak tangga. Fuih, kaki benar-benar aset penting jalan-jalan ke Kelud. Untungnya, tangga naik turun di kawasan wisata gunung kelud kondisinya sudah baik. Berupa tangga batu yang tersusun rapi dan sudah ada pegangan besinya. Wajar kalau gunung kelud meraih penghargaan sebagai objek wisata alam terbaik dalam Anugerah Wisata Nusantara 2011 oktober lalu.

15 menit menuruni tangga sampailah saya di mata air panas gunung kelud, yakni sebuah sungai dengan asap mengepul-ngepul, pertanda kalau airnya panas. Batuan sungainya berwarna coklat tanda mengandung belerang.

Ada kebohongan publik terjadi di sini. Plang informasi yang dipasang sebelum tangga turun ke mata air panas bunyinya “Spa Air Belerang”. Tapi setelah saya sampai di bawah, mana spa-nya? Nggak ada bangunan apa pun di sini selain sungai.

Tanpa membuang waktu saya langsung mencari lokasi strategis buat merendam kaki. Alhamdulillah nemu batu yang cocok buat duduk. Begitu merendamkan kaki, rasanya subhanallah banget, semacam cesss… secara tadi habis kehujanan.

Lagi enak-enaknya merendam kaki, datang segerombolan mas-mas dan mengajak saya ngobrol. Mereka excited pas saya bilang saya dari batam. Mungkin kesannya saya dari jauuuh kali ya, secara mereka dari sekitaran kediri situ juga. Setelah itu mereka ngobrol panjang lebar tanpa bisa saya pahami lantaran bahasa jawanya kelewat cepat.

Setelah 30 menit saya menyudahi ritual berendam kaki. Kembali ke atas menaiki ratusan anak tangga lagi. Fiuh. Sampai di atas saya foto-foto sebentar, trus langsung tancap gas pulang.

Oya, di salah satu ruas jalan di sekitaran pinggang gunung kelud ada yang disebut misterious road. Yaitu seruas jalan yang katanya memiliki medan magnet. Jadi meski jalannya menanjak, konon kendaraan yang berhenti di tengah jalan tersebut akan tetap meluncur naik. Wew, saya pun mencoba. Motor saya matikan, kaki nggak saya pake nahan, dan ternyata.. motor berjalan mundur. (ˇ_ˇ) Medan magnetnya nggak bekerja euy. Atau mungkin cuma berlaku buat mobil kali ya?

Perjalanan pulang dilanjutkan melewati beberapa kecamatan di kabupaten kediri; ngancar, wates, plosoklaten. Pas di plosoklaten saya melewati sebuah desa bernama desa jengkol. Bukan cuma nama desanya yang unik, makanan khasnya juga nyentrik. Mau tau apaan..?

Yakin mau tau..?

Makanan khasnya adalah *taraa* sate bekicot! Di sepanjang jalan raya desa jengkol ini berdiri banyak warung makan dengan menu andalannya sate bekicot. Saya pun membeli bungkus 50 tusuk seharga Rp.15000, dan ternyata rasanya… enak! Susah mendeskripsikan rasanya, yang jelas enak.

Selain sate, tersedia juga kripik bekicot. Tapi saya nggak beli karena menurut saya harganya agak *psst* mahal.

Setelah membeli sate bekicot, saya lanjut pulang ke rumah saudara saya di Plemahan kediri. Sampai rumah langsung mandi, makan, trus melemaskan otot-otot kaki yang tadi diforsir naik turun ribuan anak tangga di kelud. Asal tahu aja, pegal-pegal di kaki ini baru hilang lebih dari seminggu kemudian.

Selamat berwisata ke kelud! :)

Bukan ide cemerlang jalan-jalan ke Kelud pada musim hujan. Kalau tetap nekad, nasib anda bakal seperti saya; basah kuyup di puncak kelud.

Jadi ceritanya menjelang siang di suatu hari minggu sampailah saya di pos masuk kawasan wisata gunung kelud. Setelah membayar retribusi Rp.6000,- saya dipersilahkan dengan sopan oleh mas-mas pengawal pos untuk melanjutkan perjalanan menuju gunung kelud. Dari pos masuk menuju pemberhentian terakhir jaraknya 10 km.

Setelah melewati jalanan terjal dengan tebing rawan longsor di sana sini, sampailah saya di pelataran parkir gunung kelud. Parkirannya luas, muat ribuan kendaraan. Parkiran ini terletak di ketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Dari sini kita bisa melihat pemandangan kabupaten blitar dan kediri nun jauh di bawah sana. Pemandangan seperti inilah yang selalu saya idam-idamkan dan tak bisa saya dapatkan di batam. (´▽`ʃƪ)

Setelah memarkir motor saya lanjut berjalan kaki menuju kawah gunung kelud. Untuk menuju kawah kita akan melewati sebuah terowongan sepanjang 110 meter. Konon terowongan tersebut dibangun pada zaman jepang dan dimaksudkan sebagai jalan pembuangan lahar gunung kelud.

Keluar dari terowongan, maka sampailah kita di areal kawah gunung kelud. Di depan terpampang anak gunung kelud dengan batuannya yang berwarna hitam. Anak gunung kelud tersebut baru terbentuk pada erupsi gunung kelud tahun 2007. Sebelum ada anak gunung kelud, di lokasi yang sama terdapat sebuah danau kawah. Arul, teman saya, mengaku pernah berenang di danau kawah tersebut. Katanya airnya hangat dan beraroma belerang. Sekarang danau kawah tersebut tinggal kenangan (lihat video danau kawah kelud di sini).

Persis di belakang anak gunug kelud, tampak menjulang puncak kelud setinggi 1731 meter. Puncak kelud ini seolah memeluk anak gunung kelud dalam dekapannya. Ibu dan anak yang akur.. *apa sih*

Di sebelah kanan anak gunung kelud, tampak tegak menjulang puncak sumbing. Bentuk puncak sumbing ini unik, berputar setengah lingkaran dengan tebing-tebing tingginya yang terjal. Keren banget buat background foto.

Sementara di sebelah kiri adalah puncak gajah mungkur. Di atasnya terdapat sebuah gardu pandang. Puncak gajah mungkur inilah yang paling gampang didaki karena sudah tersedia tangga naik. Tanpa pikir panjang saya pun langsung naik menuju gardu pandang gajah mungkur. Jaraknya lumayan, 600 anak tangga.

Ya, 600 anak tangga… Lumayan cape ternyata. Awalnya saya berhenti istirahat tiap 50 anak tangga. Tapi makin ke atas, saya makin sering berhenti. Ujung-ujungnya istirahat tiap 20 anak tangga. :D Beruntung panorama dari tangga naik ini indah, jadi sambil berhenti kita bisa menikmati pemandangan kawah gunung kelud.

Di tengah perjalanan naik, hujan mulai turun. Para pengunjung dari atas mulai berbondong-bondong turun. Mungkin karena takut kehujanan. Tapi saya tetap naik dong, kan bawa mantel hujan.. (˘⌣˘)

Alhamdulillah, tak sampai setengah jam saya tiba di puncak. Bersamaan dengan itu hujan pun turun dengan derasnya. Untung gardu pandangnya beratap, jadi saya ada tempat berteduh. Tadinya saya pikir saya bakal jadi satu-satunya orang di puncak, tapi ternyata masih ada sepasang muda-mudi. Mereka menyapa basa-basi, saya tersenyum baso sapi. Sambil menunggu hujan reda, mereka pacaran. Sementara saya mati gaya; mau foto-foto, hujan. Mau twitteran, nggak ada sinyal. (ˇ_ˇ)

Ketika hujan sedikit mereda, sepasang muda-mudi tadi turun. Tinggallah saya seorang diri di gardu pandang gajah mungkur, berharap hujan benar-benar berhenti kemudian awan tersibak, langit bersih, dan saya pun bisa menikmati pemandangan spektakuler dari puncak gajah mungkur ini.

Namun harapan tinggallah harapan. Bukannya mereda, hujan justru makin lebat. Sekarang malah ditambah angin, menderu-deru, bertiup kian kemari. Atap gardu jadi tak ada gunanya lagi karena air bukan cuma datang dari atas tapi juga datang dari segala arah terbawa angin. Saya yang memakai jaket dan mantel hujan lengkap perlahan tapi pasti mulai kedinginan…

15 menit berlalu…

30 menit berlalu…

45 menit berlalu, dan hujan masih deras….

Hampir sejam hujan nggak berhenti-berhenti, saya memutuskan turun. Dinginnya itu lho nggak nahan, diterpa angin terus-menerus. Perjalanan turun pun dimulai melalui tangga yang sama. Tapi ternyata, ada kesulitan besar menghadang di perjalanan turun..

Jadi karena hujan, tangga naik tadi rupanya berubah menjadi semacam air terjun. Debit airnya nggak main-main, mengalir deras dari atas ke bawah mengikuti alur tangga. Maka saya pun menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Saya tak mau ambil resiko. Langkah kurang kokoh dikit aja, alamat terseret air, terpeleset, trus jatuh berguling-guling ke bawah. Trus besoknya masuk koran kriminal “wisatawan asal batam tewas kepeleset di gunung kelud” (ˇ_ˇ)

E tapi pas perjalanan turun, saya melihat sebuah pemandangan spektakuler lho! Jadi berkat hujan lebat, dinding kawah di sebelah kiri saya rupanya berubah menjadi ratusan air terjun besar dan kecil. Luarrr biasa indahnya!! Dengan susah payah saya coba mengambil foto. Sayang hasilnya jelek karena motonya sambil ribet melindungi camdig dari hujan.

Selesai moto saya lanjut turun. Agak bergegas karena mantel hujan saya sudah mulai tembus air hujan. Ketika akhirnya sampai di bawah, baju saya sudah benar-benar basah kuyup. Mantel hujannya ternyata nggak kuat nahan hujan lama-lama. Dan bersamaan dengan saya sampai di bawah, hujan pun perlahan berhenti… (ˇ_ˇ)

Bersambung ke bagian 2 minggu depan :D

Tujuan saya dan teman-teman ke Semarang tempo hari sebenarnya untuk kuliah lapangan. Tapi rupanya sempat juga dipakai acara jalan-jalan keliling kota. Termasuk berkunjung ke landmarknya kota Semarang; Lawang Sewu.

Semula saya pikir lawang sewu itu semacam gedung tua peninggalan belanda yang antik dan eksotis. Namun begitu saya menginjakkan kaki di pelataran lawang sewu,  gambaran indah tentang lawang sewu serta merta sirna. Lawang sewu tak ubahnya sebuah gedung tua tak terawat. :(

Saat memasuki gerbang depan, aura yang tertangkap adalah aura kesuraman. Megah sih, tapi suram. Mungkin karena suasana di dalam gedung gelap dan tampak tak terawat. Agak sedikit parno sebenarnya, tapi sudah terlanjur sampai sini, kami beranikan saja menjelajah ke seluruh pelosok lawang sewu.

Lawang Sewu secara umum terbagi menjadi dua bagian utama; gedung depan dan gedung belakang. Tiap gedung memiliki tiga lantai. Sebenarnya dua lantai, tapi langit-langit gedung juga difungsikan sebagai lantai. Lawang Sewu memiliki banyak lorong-lorong panjang dan gelap. Di sisi-sisi lorong tersebut terdapat banyak pintu ke ruang-ruang lain. Itulah mengapa gedung ini disebut lawang sewu yang artinya seribu pintu. Lorong-lorong panjang nan gelap itu dijamin sanggup membuat mereka yang paranoid berdiri bulu kuduknya.

Lawang sewu mulai dibangun belanda pada 1904. Fungsi aslinya adalah sebagai kantor jawatan kereta api belanda; Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Begitu penjajahan beralih ke tangan jepang, gedung ini dialihfungsikan menjadi penjara. Oleh pemandu kami diceritakan bagaimana sadisnya jepang memenjarakan para tawanan di ruang bawah tanah. Ruangan super sempit berukuran 1×1 meter diisi sampai enam orang tawanan. Gila nggak tuh?! Selain sebagai penjara, ruangan bawah tanah juga dijadikan tempat eksekusi mati para tawanan. Mendengar ceritanya saja sudah membuat saya dan teman-teman membatalkan niat masuk ke ruang bawah tanah tersebut.

Tepat di depan gedung lawang Sewu adalah tugu muda. Lawang sewu dan tugu muda ini terletak tepat di jantung kota semarang. Dari salah satu balkon lawang sewu kita bisa menikmati dengan leluasa pemandangan tugu muda dan museum mandala bhakti yang indah.

Ada satu fakta menarik nih tentang lawang sewu. Gedung ini rupanya menjadi lokasi shooting film Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal itu. Ada beberapa bagian lawang sewu yang saya ingat betul ada di AAC. Ruangan depan dan tangga naik utama seingat saya menjadi setting pengadilan tempat Fachri disidang karena kasus pemerkosaan. Sementara tangga di lorong belakang menjadi setting rumah sakit tempat Maria dirawat. Ah senangnya bisa mengunjungi tempat shooting film indonesia terlaris yang ditonton empat juta orang itu.

Setelah puas keliling lawang sewu, sempatkanlah berjalan kaki sedikit ke Jalan Pandanaran. Di sini terdapat pusat oleh-oleh khas semarang. Berburu lumpia semarang, di sini ini tempatnya.

Btw, dengar-dengar belum lama ini lawang sewu telah dipugar. Berarti kondisinya sekarang sudah tak sesuram waktu saya ke sini tempo hari. Yah, semoga semakin kondusif sebagai objek wisata andalan kota semarang. Kalau ke semarang, mampir ke lawang sewu ya! :)

Pertengahan november kemarin saya jalan-jalan ke Jawa Timur. Selama seminggu di sana, saya melintas di 10 kabupaten/kota, sholat di 3 masjid agung, dan tinggal selama 5 hari di Kediri. Berikut gambaran yang saya dapat tentang kediri selama tinggal di sana.

Kediri adalah kota terbesar ketiga di jawa timur setelah Surabaya dan Malang. Kediri sering dijuluki “kota kretek” karena di kota ini berdiri pabrik rokok kretek terbesar di Indonesia milik Gudang Garam. Bicara suasana, kotanya enak karena tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Karena bukan kota besar jalanannya masih bebas macet, namun karena juga bukan kota kecil, kediri sudah punya banyak mall dan plaza untuk berbelanja atau sekedar ngadem. ;)

Berdasarkan pengalaman saya, kediri setidaknya punya dua tempat wisata bagus. Pertama yaitu gunung kelud. Kedua adalah kawasan wisata Besuki. Di Besuki terdapat banyak air terjun, seperti air terjun dolo, air terjun irenggolo dan air terjun parijoto. Yang paling bagus dan must visit adalah air terjun dolo.

Bicara kuliner, makanan di kediri murah-murah. Dengan uang Rp.7000,- kita sudah bisa makan kenyang di warteg pakai lauk ayam dan minum es jeruk. Kalau mau yang agak extrim, cobain deh menu khas kediri yang tak ada duanya; sate bekicot. Pusatnya ada di desa djengkol kecamatan plosoklaten. Di sini, di sepanjang jalan terdapat banyak warung makan dengan menu andalan sate bekicot. Saya sempat nyoba beli 50 tusuk seharga Rp.15000, dan ternyata rasanya.. enak!

Selain dikenal sebagai kota kretek, kediri dikenal juga sebagai ‘kota tahu’. Kediri memang merupakan sentra produksi tahu. Ada dua jenis tahu khas kediri; tahu takwa dan tahu pong. Kedua jenis tahu ini layak ditenteng sebagai oleh-oleh kalau mampir ke kediri. Selain tahu takwa dan tahu pong, ada lagi namanya stik tahu. Yang ini lucu nih. Jadi tahu biasa yang kita kenal itu, entah bagaimana caranya dirubah menjadi seperti kerupuk. Kriuk-kriuk, tapi rasanya tetap asli tahu. Unik!

Selain tahu-tahuan, masih banyak oleh-oleh khas lain yang bisa kita beli di kediri seperti kripik bekicot *eergghh*, carang mas, gethuk pisang, bolu pisang dll. Pusat oleh-oleh terdapat di sepanjang jalan Pattimura dan jalan Yos Sudarso kota kediri. Kalau ke kediri, kudu mampir sini.

That’s it. Next posting, saya mau share cerita tentang gunung kelud dan air terjun dolo. Tunggu aja. Dadah!

*Foto bekicot dipinjem dari sini

Oleh-Oleh Khas Batam

Lima tahun lalu, orang batam yang mau pulang kampung atau orang luar kota yang berkunjung ke batam masih suka bingung mau bawa oleh-oleh makanan apa dari batam. Maklum, waktu itu memang belum ada makanan khas dari kota industri ini. Yang khas justru hp bm, tas kw dan parfum branded. :)

Tapi sekarang, tak perlu bingung lagi. Sudah banyak oleh-oleh makanan khas yang siap ditenteng ke bandara/pelabuhan. Insyallah khas, beda dari kota-kota lain. Berikut beberapa toko oleh-oleh yang saya rekomendasikan:

Case Pisang Villa
Cake Pisang Villa adalah pelopor oleh-oleh khas Batam. Usaha cake ini mulai dikembangkan tahun 2006 oleh pasangan suami istri Denni Delyandri dan Selvi Nurlia. Berawal dari industri rumahan, kini Cake Pisang Villa sudah punya 9 outlet dan menjadi usaha oleh-oleh terbesar di kota Batam.

Seusai namanya, oleh-oleh khasnya adalah cake pisang. Ada 9 pilihan rasa yang bisa dibeli, mulai dari rasa original, kelapa, pandan keju sampai rasa buah naga.

Mau beli? Silakan datang langsung ke outlet-outletnya. Alamatnya bisa dicek  di sini.

***

Cake Buah Naga “Aroma”
Sesuai namanya, oleh-oleh khasnya adalah cake buah naga. Buah sejuta manfaat tersebut ternyata bisa diolah menjadi kue juga lho. Varian rasanya pun dikembangkan menjadi 7 macam; original, keju, blueberry, stoberi, almond, pandan white, dan mocca coklat.

Kelebihan toko oleh-oleh “Aroma” adalah bahan baku buah naganya diambil langsung dari perkebunan buah naga di barelang. Barelang memang sentra produksi buah naga. Jadi oleh-oleh cake buah naga ini dijamin 100% asli batam.

Cake Buah Naga “Aroma” punya tiga cabang di nagoya, purimas dan seipanas. Berikut alamatnya:

- Nagoya: Komplek Wijaya Kusuma Jl. Imam Bonjol Blok I No.5 Nagoya
(Seberang Nagoya Hill)
- Purimas: Komplek Ruko Purimas Blok A Nomor 16, Jalan Engku Putri Batam Centre
- Sei Panas: Jl. Laksmana Bintan, Komplek Saudara Hasta Mandiri No.2
(sebelum SPBU Simpang Kuda)

Juga ada empat outlet di pelabuhan punggur, pelabuhan sekupang, pelabuhan harbour bay dan bandara hang nadim.

***

Bingka Bakar Nay@Dam
Oleh-oleh khas batam yang satu ini lebih bercita rasa tradisional, yakni bingka bakar dan kue bilis.

Kue Bingka Bakar konon dulunya merupakan makanan kerajaan melayu yang hanya dihidangkan pada saat acara kenegaraan, acara keagamaan, dan hajatan kerajaan lainnya. Tapi sekarang sudah bisa anda beli sebagai oleh-oleh. Sementara kue bilis adalah cemilan khas berupa ikan bilis alias teri yang digulung oleh adonan tepung kemudian digoreng garing.

Selain dua kue di atas, Bingka Bakar Nay@Dam juga menjual cake pisang.

Outlet Bingka Bakar Nay@Dam beralamat di Ruko Puri Legenda Blok D1 No. 03, Batam Centre. Yang mau pesan antar, telepon saja ke (0778) 8096179 atau 7315376. Sebelum pesan tak ada salahnya lihat-lihat dulu situsnya http://www.bingkanayadam.com/

***

Selamat membeli oleh-oleh :)

Dibanding kota-kota lain, Batam termasuk miskin objek wisata sejarah. Wajar sih, secara batam baru seumur jagung. Kalau dihitung dari berdirinya badan Otorita Batam(OB) tahun 1971, umur kota batam baru 40 tahun. *jagung apa ya umur segitu?* Sebelum ada OB, batam bukan ‘sesuatu’. Batam hanya sebuah pulau sunyi dengan titik-titik pemukiman penduduk yang kini menjadi kampung-kampung tua. Jadi, batam memang tidak punya bangunan bersejarah peninggalan belanda, jepang, apalagi kerajaan hindu budha.

Satu-satunya objek wisata sejarah yang bisa ditemui di batam adalah bekas camp pengungsi vietnam. Tapi itu pun letaknya jauh di Pulau Galang. Satu jam keluar kota. Selain camp vietnam, tidak ada objek apa-apa lagi.

Mungkin gegara miskin objek sejarah itulah, tahun 2010 lalu Pemko Batam menjadikan Komplek Makam Zuriyat Nong Isa di Nongsa sebagai objek wisata sejarah dalam rangka Visit Batam 2010. Komplek Makam Zuriat Nong Isa berarti komplek pemakaman para kerabat dan keturunan dari Nong Isa.

Siapakah Nong Isa? Menurut catatan sejarah , Nong Isa atau Raja Isa bin Raja Ali adalah penguasa pertama pulau batam. Tahun 1829, beliau memperoleh mandat dari Sultan Riau dan Yang Dipertuan Muda Riau VI untuk memerintah kawasan nongsa dan sekitarnya. Kawasan nongsa dan sekitarnya tak lain tak bukan adalah pulau batam. Surat mandat Nong Isa tersebut dikeluarkan pada 22 Jumadil akhir 1245 atau bertepatan dengan 18 desember 1829. Tanggal tersebut kini ditetapkan sebagai hari jadi kota batam.

Komplek makam zuriyat nong isa terletak di atas sebuah bukit kecil di kampung nongsa pantai, kelurahan sambau, kecamatan nongsa, batam. Nong Isa sendiri tidak dimakamkan di sini, jadi hanya makam anak keturunannya saja. Makam beliau sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Allahu a’lam.

Untuk sampai ke komplek makam kita harus menaiki puluhan anak tangga. Tepat sebelum gerbang makam, terdapat sebuah papan keterangan yang menjelaskan silsilah keluarga Nong Isa dari tahun 1700-an sampai sekarang. Sayang papannya sudah mulai rusak, bahkan nyaris roboh. Seharusnya ditambahkan satu papan keterangan lagi yang menjelaskan peran & kiprah Nong Isa dalam memimpin batam di masa lampau.

Komplek makam dikelilingi oleh hutan kecil, jadi jangan takut kalau pas berziarah ke sini anda diawasi oleh monyet-monyet dari atas pohon. Jangan pula terkejut kalau sedang khusyuk berdoa tiba-tiba keletuk! buah karet jatuh tepat di kepala anda. Di sini memang banyak pohon karet.

Ah, ngomongin buah karet, jadi teringat masa kecil. Dulu itu mainan saya… :)

*khusus foto nisan dipinjam dari sini

Di Batam ada satu pantai bernama pantai nongsa. Pantai nongsa ini terletak di sepanjang pesisir kampung nongsa – kelurahan sambau, kecamatan nongsa, batam. Konon, kampung nongsa merupakan pemukiman penduduk paling awal yang wujud di Batam. Nama nongsa sendiri diambil dari kata Nong Isa, nama penguasa pertama batam yang bertahta di nongsa sekitar awal abad ke-18.

Tapi meski pertama kali eksis, sampai sekarang kampung nongsa masih berupa kampung tradisional yang bersahaja. Suasananya masih sepi, hening, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ramai paling-paling hanya pada akhir pekan, saat banyak pelancong yang datang. Foto-foto di halaman ini adalah hasil jepretan saya kemarin, saat datang ke pantai ini subuh-subuh. Bener deh, jalan-jalan ke pantai itu paling keren abis subuh. Nuansa beningnya dapet banget!

Pantai nongsa terletak di sebelah utara pulau batam. Letaknya persis di tepi selat singapura. Dari pantai nongsa kita bisa melihat negara Singapura dan Malaysia nun di seberang lautan. Masing-masing hanya berjarak beberapa belas kilometer.

Persis di lepas pantai nongsa, terdapat sebuah pulau kecil bernama Pulau Putri. Menurut legenda kuno, pulau putri tersebut aslinya adalah seekor ular raksasa yang terdampar lantaran kesiangan turun ke laut. Boleh percaya boleh tidak. Cerita lengkap tentang pulau putri sudah saya ceritakan di sini.

Pantai nongsa sepanjang 1,3 km ini diapit oleh beberapa resort wisata bertaraf international. Di sebelah timur, dibelah oleh sungai nongsa, terdapat resort Nongsa Point Marina dan Turi Beach. Sedangkan di sebalah barat berbatasan dengan Palm Spring, sebuah golf course dan resort. Resort-resort wisata tersebut target market-nya tak lain adalah para pelancong dari negeri seberang. Sementara pantai nongsa yang bersahaja ini masih semata-mata mengharapkan limpahan berkah dari para pelancong lokal yang hanya ramai saat akhir pekan.

Entah sampai kapan pantai nongsa mampu bertahan….

Pulau Putri di lepas pantai nongsa

Narsis dikit