
Aye! Awal april kemarin saya dan tiga rekan; @darusnal, @rikodoank dan @robymandala (eh ini bukan twitter ya?) jalan-jalan ke luar pulau. Tak jauh-jauh, kami plesiran ke Pulau Kura, sebuah pulau mungil tak berpenghuni di selatan Batam.
Kami tahu tentang pulau kura dari bang @rikodoank yang sebelumnya sudah pernah mancing di sini. Kami pun berkunjung ke pulau kura dengan dua tujuan: 1.Mancing 2. Foto-foto(tetep!).
Perjalanan dimulai dari rumah kami masing-masing di batam center menuju Kampung Tua Tanjung Gundap. Baru denger? Sama. Saya juga baru ini tahu ada kampung bernama tanjung gundap. Letaknya tak terlampau jauh dari jembatan satu barelang. Jalan masuk ke tanjung gundap sekitar 400 meter sebelum markas Yonif 134 Tuah Sakti Barelang, belok ke kanan. Atau sekitar 4 km setelah pertigaan mal Top 100 Tembesi. Kita masih harus melewati jalan tanah berdebu 2,5 km sebelum akhirnya sampai di kampung tua tanjung gundap.
Di tanjung gundap kami bertemu Bang Ali, warga setempat yang bersedia mengantarkan kami ke pulau kura. Tanpa basa basi bang ali langsung mematok tarif Rp.200.000 untuk antar jemput. Dibagi empat jatuhnya Rp.50.000/orang. Masih terlalu mahal. Saya tawar Rp.100.000. Bang Ali mikir. Tapi begitu tahu ada dua orang lain yang mau ikutan gabung ke pulau, bang ali deal, Rp.150.000 antar jemput. Kami diantar pagi, dan dijemput sore harinya atau kapan pun merasa bosan. Tinggal telepon.
Sebelum menyeberang, @chandra dan @rikodoank terlebih dulu membeli umpan udang hidup untuk umpan di rumah salah satu warga . Kami beli setengah kilo seharga Rp.25.000. Belakangan emak saya bilang kemahalan. Selain udang, dijual juga ketam/kepiting hidup seharga Rp.60ribu/kg. Lagi-lagi emak bilang kemahalan. Tapi itu harga sebelum tawar.
Setelah membeli umpan berangkatlah kami menuju pulau kura menggunakan perahu bermesin alias pompong. Satu pompong muat sampai 10 orang. Sepanjang ‘pelayaran’ kita bisa menikmati panorama laut sekitar Batam. Jembatan satu barelang tampak jelas dari pompong kami. Tegak menjulang, dan memang tampak lebih gagah dilihat dari atas laut.
15 menit dilamun ombak diterjang badai, sampailah kami di pulau kura. Pulaunya kecil saja, kelilingnya cuma 400 meter. Berpantai pasir putih di barat, berbatu cadas dan berbakau di timur. Tanpa membuang masa, @darusnal dan @rikodoank langsung lepas kail ke laut. Tapi yang dapat ikan duluan justru @robymandala. Ikan apa? Jangan ditanya, ikan tokak! Dijual murah pun tak ada yang sudi membeli.
Sampai sore, ikan yang kami dapat tetap tokak. Diselingi ikan pinang-pinang yang sama-sama spesies berkasta rendah. Sudah begitu ukurannya kecil-kecil pula. Hanya seekor saja yang selebar telapak tangan. Padahal kata @rikodoank, pengalaman sebelumnya dia bisa dapat ikan todak. Wew.
Begitulah, hari itu di pulau kura kami habiskan waktu, sejak matahari merangkak naik hingga tergelincir ke ufuk barat. Selain mancing, kami foto-foto, berendam di laut, dan berjemur di pantai. Hingga posting ini ditulis, kulit saya masih terus mengelupas karena terbakar matahari. Warnanya pun masih menghitam, belum kembali kuning langsat seperti sedia kala (najis!).
Jam empat sore kami dijemput bang Ali, siap diantar balik ke tanjung gundap. Tinggallah pulau kura seorang diri, berteman sepi, meratapi nasib ditinggal empat pria tampan… *kemudian hening*
Olrait, buat kawan-kawan yang pengen plesiran ke pulau kura juga, berikut beberapa tips:
1. Datanglah beramai-ramai. Maksimal 10 orang. Makin ramai, urunan ongkos nyebrang bakal makin murah. Maximal 10 orang, agar bisa diantar sekali angkut.
2. Bawalah makan minum yang cukup karena di pulau kura tak ada warung atau delivery. Bawa juga sunblock agar kulit tidak terbakar.
3. Catat nomor pengantar(bang ali) di lebih dari satu hp. Sekedar jaga-jaga kalau ada hp yang nyemplung ke laut (curcol).
4. Jangan buang sampah sembarangan ya. Bawa kantong khusus buat menyimpan sampah kamu, dan bawa sampahnya pulang ke tanjung gundap. Kalau bukan kita yang menyayangi alam kita, siapa lagi?
Met jalan-jalan!



