Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Wisata Belanja’ Category

Kuil Sri Srinivasa Perumal, Little India, Singapura

Mawar(bukan nama sebenarnya) di depan Kuil Sri Srinivasa Perumal, Little India

Little India adalah salah satu tujuan wisata favorit turis Indonesia di Singapura. Tak terkecuali saya. Dalam 10 kali kunjungan ke Singapura, setidaknya 4 kali saya ke Little India. Ngapain? Belanja dong!

Daya tarik utama Little India antara lain adalah Mustafa Centre. Yup, departemen store besar ini menjual tak kurang dari 300.000 jenis item yang konon berharga murah. Beneran murah? Menurut saya sih relatif. Ada barang yang emang beneran murah, tapi ada juga yang harganya bikin pengen jedotin kepala ke tembok. Gak masuk akal! Barang setipe & semerek di Glodok & Tanah Abang malah lebih murah..

(more…)

Read Full Post »

salah satu toko tas di batam

Banyak yang bilang batam itu surga belanja. Orang-orang luar kota konon kalau datang ke kota industri ini tak melewatkan kesempatan untuk berbelanja handphone, aneka barang elektronik, parfum, dan tas branded.

Yang hobi tas pasti kenal kawasan Nagoya. Di sini memang terdapat banyak sekali toko tas. Putari saja Komplek Bumi Indah & Nagoya Business Center, maka di mana pun mata anda memandang di sana akan  ada toko tas.

Merek, harga dan kualitas tas yang dijual beragam. Kualitas, dibagi berdasarkan kasta: KW 2, KW 1, KW Super, KW Premium, hingga kualitas yang katanya Ori(ginal). Trus ada level Semi-nya juga; Semi Super, Semi Ori, dan lain sebagainya.

Anda butuh referensi tempat beli tas di batam? Berikut saya sajikan testimoni teman-teman saya yang hobi belanja tas.

Biasanya kalau beli tas dimana?

“Paling sering di toko Young Sun Collection, Nagoya. Di situ murah-murah. Juga sering ke JJ Collection, Milan Collection & UP Design.”
~ Leni, 29 tahun, Batam Center

“Biasanya sih ke JJ Collection Nagoya. Sama di BCS, nama tokonya lupa – di lantai dasar, depan toko emas.”
~ Meyanda, 23 tahun, Palembang

“Paling sering ke JJ Collection. Tapi nggak mesti juga. Kalo lagi jalan-jalan di Nagoya Hill dan ketemu yang bagus, ya beli. Yang bagus-bagus biasanya di Toko Beslim Nagoya Hill.”
~ Tanty, 25 tahun, Bukit Indah Sukajadi

“Kalau yang harganya agak low saya beli di Toko Erika, Nagoya. Kalau yang agak high di Toko Batam Jaya, Nagoya.”
~ Yunita, 26 tahun, Batam Center

“Paling sering ke JJ Collection sama toko Marco. Juga ke toko Sarinah. Kalo di Nagoya Hill, seringnya ke Toko Beautiful.”
~ Putra, 27 tahun, Batam Center

“JJ Collection sama toko Batam Jaya. Pokoknya semua toko tas di sekitaran nagoya lah. Tergantung ketemu yang cocok di mana.”
~ Gia, 28 tahun, Batam Center

***

Testimoni di atas tidak dimaksudkan untuk mempromosikan toko tas tertentu ya. Dan juga tidak berarti toko-toko yang tidak disebut di atas tidak bagus. Saya hanya menuliskan apa adanya sesuai jawaban narasumber. Kalau nanti anda datang ke salah satu toko dan kecewa, jangan salahkan saya. ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

Btw, secara personal saya tidak menyarankan anda membeli tas KW. Karena dengan membeli tas KW berarti anda telah mendukung pembajakan merek. Pembajakan adalah pencurian, dan pencurian adalah dosa. Apalagi tas-tas KW tersebut disinyalir ada yang dibuat dari kulit babi. Serem kan?

So, lebih baik beli tas merek lokal tapi asli original. Yang tak setuju tak perlu sewot. Allahu a’lam bishawab.

Read Full Post »

Senin kemarin untuk pertama kalinya saya jalan-jalan ke Pasar Seken Aviari.

Apa?! Pasar seken???

Iya. Ceritanya  teman saya ada yang lagi butuh jas/blazer, tapi punya budget terbatas. Tahu sendiri kan harga jas atau blazer baru itu nggak ada yang murah. Entah bagaimana terbersitlah ide cemerlang mencari jas/blazer seken. Dan tempat yang paling lengkap tak lain adalah pasar seken aviari.

Pasar seken aviari ini terletak di komplek aviari, batuaji, batam. Berupa beberapa blok ruko dan lapak-lapak kaki lima yang selurunya menjual barang-barang second hand alias seken. Total ada kali 100 toko dan lapak.

Apa saja yang dijual? Lengkap. Yang dominan tentuk produk fashion. Busana laki-laki dan perempuan tersedia lengkap sampai ke pakaian-pakaian dalam segala. Saya sampai nggak habis pikir, apa ada yang mau beli kolor dan beha bekas? -___-

Selain itu dijual juga aneka sepatu – dari boots sampai hi-heel, aneka tas – dari tas tangan sampai koper, seprei, gorden, pakaian dan peralatan olahraga, lemari, sampai kursi refleksi. Semua barang-barang seken tersebut dipasok dari singapura

Soal harga, sangatlah miring, tergantung kepandaian menawar. Saya yang nggak pintar nawar aja kemarin bisa dapat blazer unyu kondisi 95% dengan harga cuma 25% dari harga baru(taksiran saya). Adik saya malah dapat blazer unyuatu(unyu dan sesuatu) dengan harga cuma 30ribu!

Sejauh ini saya dan adek sepakat; yang layak dibeli di sini adalah pakaian-pakaian lapis kedua seperti jas, blazer, jaket atau mantel. Kalau baju lapis pertama mm rasanya agak gimana gitu.. secara kita kan nggak tahu pemilik pertama orangnya kaya’ gimana. Jangan-jangan dia mengidap kadas/kurap/eksim/panu stadium 4…..

Yaa walaupun barang-barang di sini asalnya dari negara maju, tidak menutup kemungkinan kan orang sana punya penyakit kulit.

Selamat berbelanja!

Read Full Post »

Mulai 15 Juli 2010 kemarin di engku putri Batam Center ada pameran flora bertajuk Batam International Hortifest. Pesertanya dari tiga negara; Indonesia, Malaysia dan Thailand. Bagi yang sedang berniat membeli bunga buat halaman, teras, atau taman belakang rumah, atau yang sedang mencari obat-obatan herbal , selayaknya menyesal kalau tidak sempat datang ke pameran ini.

Read Full Post »

Untuk tulisan saya yang lebih baru tentang Singapura cek di sini.

Singapura memang sangat dekat dengan Batam. Tapi buat aku, orang batam dari kalangan menengah ke bawah, jalan-jalan ke singapura tetap saja pengalaman seru dan nggak bisa sering-sering dilakukan.

Akhir Februari 2010 kemarin, aku dan 4 orang teman travelling ke singapura. Ala backpacker. Nggak seratus persen backpacker sih, karena kami cuma bawa ransel ukuran sedang yang isinya persis kaya’ mau nginep satu malam di rumah temen di kota sebelah. Simple! Kami memang berniat hanya menginap satu malam di singapura. Berangkat sabtu siang, balik ke batam minggu sore.

Sabtu pukul 14:10 kami berangkat dari ferry terminal batam center menuju Harbourfront singapura menggunakan ferry BatamFast. Tiket, kami beli yang PP(Pulang-Pergi) seharga 17,5 dollar. Tiket PP jauh lebih murah daripada tiket sekali jalan. Selain tiket, kita juga harus membayar seaport tax sebesar 7 dollar.

Kami sampai di Harbourfront sekitar 1,5 jam kemudian. Pelabuhan harbourfront ini terhubung langsung dengan Mall Vivo City. Lumayan, sampai-sampai bisa langsung cuci mata. Dari Vivo City kami naik MRT menuju Bugis. MRT(Mass Rapid Transit) adalah kereta api supercepat bawah tanah. Menghubungkan hampir semua wilayah singapura. Keren banget! Jadi ngayal, kapan batam bisa punya transportasi masal kayak gini.. (miris)

Untuk bisa naik MRT kita harus membeli tiket. Belinya di mesin-mesin serupa ATM sebelum pintu masuk station. Tinggal tentukan tempat tujuan, masukkan uang, keluar deh tiketnya. Tapi, sebelum beli tiket mending kamu pelajari dulu rute MRT dengan seksama. Ini penting, supaya kita nggak kesasar atau keterusan. Peta rute MRT banyak tersebar di mana-mana kok di sekitar station, dan cukup mudah dipahami. Oya, selain membeli tiket sekali jalan seperti di atas, kita juga bisa membeli kartu yang namanya EZLink. Harganya 15 Dollar, depositnya 10 Dollar. Menggunakan EZlink ini lebih mudah karena kita nggak perlu bolak balik antri beli tiket. Tarif persekali jalan juga jatuhnya jadi lebih murah. Selain bisa digunakan untuk MRT, EZLink juga bisa digunakan untuk bus, alternatif lain transportasi umum di singapura.

Hanya beberapa menit menunggu, MRT rute hijau menuju bugis tiba. Berebutan kami masuk ke dalam. Berhubung jam pulang kerja, penumpangnya jadi rame banget. Secara fisik, MRT jauh lebih baik dibanding kereta api antar kota di Indonesia (yaiyalah!). Ber-AC, dan ada panduan suara ketika akan tiba di setiap station.

Tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Bugis station. Letaknya persis di bawah Mall Bugis Junction. Sepertinya hampir semua station MRT di singapura terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan. Dari station, kami berjalan kaki 1 kilometer-an ke Kampong Glam. Ini merupakan kawasan pemukiman masyarakat muslim singapura. Penginapan kami terletak di jalan Kubor(serem amat namanya?) Kampong Glam, yakni ABC Backpacker Hostel. Aku mendapat info penginapan ini dari internet.

Penginapan kami terhitung murah jika dibandingkan tempat-tempat menginap lain di singapura. Fasilitasnya juga lengkap, cuma satu yang kurang; kenyamanan tempat tidur. Tempat tidurnya tingkat, persis tempat tidur di barak angkatan.

Dengan membayar 21 SGD per kepala, kami mendapatkan fasilitas tempat tidur selama sehari, free towel and blanket, free internet access, dan free breakfast sepuasnya. Satu kamar berisi 3 tempat tidur tingkat, dan karena kami berlima,maka masih tersisa 1 tempat tidur yang tak terisi sampai kami check out.

Tak berlama-lama di hostel, cuma mandi, kami langsung cabut ke the ‘most’ must visit place kalo ke singapura; Merlion. Dari bugis kami naik MRT ke Rafless Place. Rafless Place inilah pusat kota singapura. Gedung-gedungnya tinggi menjulang, khas kota modern internasional. Dari Rafless Place station kami jalan kaki hampir 1 kilometer ke patung merlion melewati hotel The Fullerton yang megah bak istana dewa-dewi yunani.

Merlion Park letaknya persis di sebelah Esplanade Bridge, di semenanjung kecil menghadap ke Marina Bay atau teluk Marina. Letaknya sangat strategis. Dikelilingi oleh pesona kemegahan kota modern singapura. Di belakang kita ada gedung-gedung pencakar langit  yang otomatis jadi background foto kalau kita mau foto-foto sama patung merlion. Di sebelah kanan nun di seberang laut ada gedung opera Esplanade dengan bentuknya yang khas(konon mirip durian). Agak ke kanannya dikit ada Singapore Flyer. Apa sih bahasa indonesianya? Itu lho giant wheel dengan diameter 165 meter. Ini adalah giant wheel terbesar di dunia. Keren! Persis di depan kita, hampir menutupi teluk adalah Marina Bay Sands. Integrated Resort & Casino yang sedang tahap pembangunan itu tampak spektakuler dengan gedung kembar tiganya. Di puncak gedungnya tengah dibangun sesuatu yang aku rasa kelak akan berbentuk serupa perahu nabi Nuh. Gedung kembar tiga ini tampak paling mencolok kalau dilihat dari batam.

Setelah puas jeprat-jepret sana sini, kami balik ke hostel di bugis. Jam 12 malam, dengan MRT terakhir malam itu. Khusus malam minggu MRT beroperasi sampai jam 12. Kami naik last train, hampir telat. Telat dikiiit aja, alamat pulang jalan kaki. (_ _’)

Sampai di bugis bukannya langsung masuk kamar terus tidur, anak-anak malah pada milih nongkrong dulu di rumah makan Arabian style di north bridge road Kampung Glam, persis di seberangnya Masjid Sultan. Masjid sultan ini keren lho. Kubahnya emas. Nggak tau emas beneran apa warnanya doang. Yang jelas aku dua kali sholat di situ. :)

***

Hari Minggu. Petualangan kembali dimulai. Bugis Street menjadi tujuan pertama kami. Letaknya persis di seberang jalan Bugis Junction. Konon di sinilah pusat belanja murah di singapura. Konsep bugis street sebenarnya mirip kaki lima, cuma lebih bersih dan tertata. Barang-barangnya juga lumayan bagus-bagus dan murah-murah, serta bisa ditawar. Baju, celana, jam tangan, tas, dompet, pernak-pernik khas singapura buat oleh-oleh semua ada. Di sini aku membeli celana pendek seharga 15 Dollar, jam tangan 15 dollar, serta beberapa oleh-oleh seharga 10 dollar. Hemat beib. :)

Puas belanja di bugis street kami ngadem di Bugis Junction. Lumayan sambil cuci mata. Setelah itu langsung ke bawah, ke bugis station, bersiap naik MRT menuju ke Orchard Road. Inilah dia kawasan paling populer di singapura. Singapore ya Orchard Road, begitu kata Raditya Dika si kambing jantan.

Seperti yang saya bilang di atas, hampir semua station MRT di singapura berada atau terhubung langsung dengan pusat perbelanjaan. Maka Orchard station pun langsung terhubung ke Mall Ion Orchard. Arsitektur Mallnya keren. Blink-blink gitu. Outlet-outlet papan atas berjejer rapi di Ion; louis vuitton, prada, dior dll.

Dari Ion, kami menyeberang ke Lucky Plaza. Niatnya sih mau makan siang di sini. Tapi niat itu terpaksa batal karena lucky plaza rameeeeeeeeeeeeeeeee banget!! Mungkin karena akhir pekan. O ya, lucky plaza ini terkenal dengan barang-barang elektronik murah. Tapi hati-hati ya, karena denger-denger banyak kasus penipuan terjadi di sini (baca di kaskus)

Dari rrchard kami meluncur lagi ke tempat kedatangan Vivo City. Dari sini rencananya kita mau nyebrang ke Pulau Sentosa. Di Vivo City ada station khusus yang bisa mengantarkan kita ke pulau sentosa. Ke sentosa ternyata deket banget. Dari top floor Vivo City bisa kelihatan betapa dekatnya sentosa. Hanya sepelemparan batu. 1 kilometeran saja.

Sayang beribu sayang, karena didera kelelahan yang teramat sangat(lebay), aku memilih tak ikutan ke Sentosa. Lagipula hari sudah beranjak sore, semakin dekat dengan waktunya pulang ke batam. Kalau cuma sejam dua jam, sempat ngapain di Sentosa? Akhirnya kami hanya duduk-duduk di top floor Vivo City. Melepas lelah, nyelupin kaki di kolam,  menikmati semilir angin laut singapura.

Dan travelling kami kali ini di singapura benar-benar berakhir di Vivo City. Agak sorean, kami beringsut ke harbourfront. Cek-in membayar tax 20 dollar, masuk ferry, kemudian meluncur pulang ke batam. Tak  semua tempat menarik kami sambangi memang. Mungkin lain kali. Travelling ke singapura berikutnya aku pengen temanya “Sehari di Pulau Sentosa”. Pasti menarik. Tunggu aja!

Read Full Post »

Tanggal 6 – 9 Maret 2009 kemarin untuk kedua kalinya aku travelling ke pulau dewata Bali. Dan baru pada kunjungan kedua inilah aku percaya kalau bali itu memang surganya dunia.

Perjalanan dimulai dari kota Pare Kediri menggunakan bis berkapasitas 30 tempat duduk. Berangkat tanggal 6 Maret jam 2.30 sore, tahukah kau kawan jam berapa kami menjejakkan kaki di bali? Jam 09 pagi tanggal 7 Maret! Bayangkan, perjalanan darat nyaris 20 jam! Itu pun baru sampai di Gilimanuk, bukan di Tanah Lot, tujuan wisata pertama kami. Padahal menurut rundown seharusnya kami sudah tiba Tanah Lot jam 5 subuh. Keterlambatan sampai 5 jam ini disebabkan oleh kecelakaan beruntun di Alas Baluran Banyuwangi, yang mengakibatkan jalan macet hingga berkilo-kilometer. Sabar.. sabar…

Objek wisata pertama yang kami kunjungi adalah Tanah Lot. Tak perlu dijelaskan lagi tanah lot itu bagaimana karena tempat ini memang sudah terlalu popular. Pura di atas karang yang menjadi landmark tanah lot pun habis-habisan kami jadikan background foto. Sayang, saat kami tiba air laut tengah pasang, sehingga kami tidak bisa menjejakkan kaki langsung di pura.

Di bagian bawah karang pura anah lot terdapat sumber mata air tawar. Orang bali menganggapnya air suci, karena berasa tawar padahal berada di air asini. Konon air ini bisa menyembuhkan penyakit, mengentengkan jodoh, hingga mengabulkan permintaan. Boleh percaya boleh tidak.

Satu objek lagi yang menarik di tanah lot adalah Batu Bolong. Berupa tebing batu yang tengah-tengahnya bolong terkena abrasi. Foto-foto di bawahnya pasti keren. Lagi-lagi sayang, saat kami di sana air laut sedang pasang. Huft.

Dari tanah lot rombongan kami bergerak ke Nusa Dua, Tanjung Benoa. Di sini rencananya kita hendak menyebrang ke Pulau Penyu, tempat penangkaran penyu. Sayang, kami tiba terlalu sore dan tak memungkinkan untuk menyeberang. Harusnya dari tanjung benoa kita naik perahu untuk menuju ke pulau penyu. Perahunya glass bottom alias dasarnya terbuat dari kaca, sehingga sepanjang perjalanan menuju kita bisa menyaksikan keindahan dasar laut tanjung benoa.

Tak berlama-lama di tanjung benoa, kami langsung meluncur ke penginapan di Pantai Kuta. Beruntung sekali (setelah berkali-kali sayang) kami mendapat penginapan persis di depan pantai paling terkenal di Indonesia itu. Setelah mandi dan makan, tibalah saatnya bagi kami walking around kawasan kuta.

Malam itu kami rame-rame jalan kaki menuju Monumen Bom Bali I di Jalan Legian. Letaknya sekitar satu kilometer dari penginapan. Di sepanjang Jalan Kuta menuju Legian tempat-tempat nongkrong dan oulet-outlet terkenal berjejer menanti pembeli; Hardrock Cafe, Starbucks Coffe, D&C, Billabong, Surfer Girl dan lain-lain.

Sampailah kami di Monumen Bom Bali I. Di sebuah marmer hitam terpampang 200 nama korban yang meninggal pada peledakan bom 12 Oktober 2002 itu. Patutlah kiranya kita menundukkan kepala sejenak, mengheningkan cipta untuk mereka…

Balik ke penginapan, aku mampir ke pantai kuta. Sekedar duduk-duduk di atas pasir, menikmati udara pantai yang tenang malam itu. Nggak tahu apa setiap malam kuta memang sepi, yang jelas malam itu pantai kuta benar-benar sepi. Hanya satu dua wisatawan lalu lalang. Aku sempat kenalan dengan seorang pria yang tengah menunggu pacarnya pulang kerja. Pacarnya kerja sebagai dancer di salah satu cafe tak jauh dari tempat aku duduk. Kita ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya dia pergi karena pacarnya sms minta dijemput. Aku juga balik ke penginapan. Istirahat, menyimpan tenaga untuk petualangan besok.

***

Jalan-jalan hari kedua dimulai. Tujuan pertama kita adalah Pusat Oleh-oleh ‘Cah Ayu’. Konon inilah tempat membeli oleh-oleh paling terkenal di bali. Di ‘Cah Ayu’ berbagai jenis makanan ringan yang layak dijadikan buah tangan dijual, seperti dodol aneka buah, brem, sruwa-sruwi, selai pisang, aneka kripik dll. Tapi yang menjadi khasnya Cah Ayu adalah kacang asinnya. Ada satu yang unik, yaitu jajanan yang terbuat dari tomat tapi rasanya persis buah kurma.

Dari Cah Ayu kami meluncur ke Pasar Sukowati. Pasar ini tak boleh dilewatkan kalau anda ke Bali. Oya, di Bali, khususnya kabupaten Gianyar, ada tiga pasar Sukowati; Sukowati Pusat, Sukowati II dan Sukowati III. Kali ini kami mengunjungi Pasar Sukowati Pusat.

Matahari bersinar terik ketika kami sampai di pasar sukowati. Udara terasa semakin panas saat kami blusukan dalam pasar yang pengap. Namun rasa panas itu serta merta sirna ketika kami mulai memilah milih barang, dan tawar-menawar harga. Jangan sungkan-sungkan menawar di sini. Anda malah harus berani menawar sampai 1/3 dari harga yang dipasang penjual. Kalo kamu jago nawar, kamu bisa dapat kaos oblong bali dengan harga kurang dari 10 ribu rupiah perpotong. Murah kan?! Nggak cuma kaos oblong, semua barang kerajinan yang layak dijadikan oleh-oleh dijual di sini; baju, kemeja, sarong pantai, lukisan, kerajinan kayu dll. Komplit deh pokoknya!

Puas belanja sampai dompet kritis, kami lantas bergerak ke objek wisata terakhir di bali, yaitu Danau Bratan. Orang lebih mengenalnya dengan nama Bedugul. Objek wisata ini bisa kamu lihat di uang kertas pecahan Rp.50.000.

Setelah sekitar satu jam perjalanan dari pasar sukowati dengan jalan yang terus naik, sampailah kami di bedugul. Di tengah perjalanan menjelang sampai bedugul, kami sempat melewati sebuah villa yang konon milik Tommy Mandala Putra, anak mantan penguasa orde baru;  Presiden Soeharto. Villa super besar itu tampak terbengkalai. Tapi aura kebesarannya di masa lampau tetap memancar.

Begitu keluar dari bis udara sejuk bedugul langsung menyergap kami. Maklum, bedugul berada di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut. Berdiri di pinggir danau bratan dan menatap Pura Ulun Danu yang tegak di tengah danau, rasanya nyawaku seketika tercabut dari dunia dan dengan semena-mena dicampakkanke nirwana. Menatap pura beratap sebelas tingkat dengan latar belakang Gunung Catur yang tertutup awan memberikan ketenangan batin yang luar biasa. Awan-awan yang berarak rendah di atas danau tampak seumpama peri-peri jelita yang terbang pulang ke negeri kayangan. Membuang pandangan ke tengah-tengah danau beratan yang teduh seumpama membuang seribu beban yang telah lama bersarang di dada. Danau beratan, i love u so much.

Selain menikmati keindahan danau bratan dari tepi, kita juga bisa merasakan sensasi berkendara ke tengah danau. Ada tiga pilihan sarana: perahu dayung, perahu bermesin, dan jetski. Untuk berkeliling danau dengan perahu bermesin selama 10 menit anda hanya perlu merogoh saku sebesar 25.000 rupiah. Anda yang hobi mancing juga bisa menyalurkan hobi anda di danau beratan.Tapi please, jangan berharap dapat marlin ya! :)

Ketika matahari hampir jatuh di ufuk barat kami pun beranjak meninggalkan bedugul. Perjalanan pulang nan panjang ke kediri pun dimulai. Wisata dua hari mengelilingi pulau dewata usai sudah. Aku sangat menikmati tour keduaku ke pulau seribu pura ini. Dan bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirku berwisata ke bali. Setelah ini aku akan pulang ke batam, dan kalau sudah di batam, bali terasa sangaaaaat jauh. Biaya ke bali dari batam pun akan berkali-kali lebih mahal dibanding berangkat dari jawa timur. Kalau sudah di batam mah mikirnya bukan jalan-jalan ke bali lagi, tapi ke singapura atau malaysia. Insyaallah akan kuceritakan juga. :)

Read Full Post »

26 Agustus – 1 September 2008 yang lalu aku dan teman-teman paduan suara Gita Widya Giri(GWG) berada di Bandung dalam rangka mengikuti festival paduan suara di ITB. Dan kalau bukan karena PS GWG, mungkin selama kuliah aku nggak bakalan pernah mampir ke bandung. :)

Berangkat dari stasiun gubeng surabaya tanggal 26 Agustus jam 4 sore, kita sampai di Stasiun Hall Bandung tanggal 27 Agustus jam 8 pagi. Di bandung kita menginap di Mess Pussenif(Pusat Kesejahteraan Infanteri). Hanya dua jam setelah tiba di mess kita langsung disuruh latihan bareng mempersiapkan festival. Bayangkan! Setelah 14 jam perjalanan darat, kita langsung latihan menyanyi dan koreografi yang melelahkan. Rasanya pengen pingsan. (_ _’)

Jadi begitulah. Selama tiga hari pertama di bandung kegiatan kita hanya diisi dengan latihan, latihan dan latihan. Pak Irwan, pelatih kita, memang pengen memaksimalkan latihan selama di bandung, tujuannya agar kualitas vocal kita menjadi terbiasa stabil.

Puncak dari seluruh latihan itu adalah pada 29 Agustus pukul 7 malam, di mana kita tampil di atas panggung Festival Paduan Suara ITB menyanyikan lagu Seblang Subuh dan Macepet-cepetan. Satu lagu tradisional banyuwangi, satu lagu khas bali.

Selewat tanggal 29 barulah menjadi saat-saat menyenangkan di bandung. Saatnya hura-hura, waktunya melepaskan semua ketegangan yang membebani sebelum lomba. Tanggal 30 Agustus kita rame-rame keliling bandung. Yang pertama kita kunjungi adalah Jalan Riau alias Jalan RE Martadinata. Di sepanjang jalan ini distro dan factory outlet berjejer rapi menggoda pembeli. Selama tiga jam kita keluar masuk begitu banyak outlet. Buatku yang paling seru adalah waktu masuk ke 18th Park. Di sini merek-merek distro terkenal ngumpul jadi satu. Skater, Folker, The Ahmed, Diery, semua ada. Membawa uang banyak wajib hukumnya  kalau berkunjung ke sini.

Bosan sama distro-distroan, dari Jl. Riau kita meluncur ke Pasar Baru di jalan Otista. Pasar yang terletak di jantung kota bandung ini benar-benar membuatku takjub. Sumpah, seumur-umur baru kali ini aku melihat pasar yang ramainya bukan main. Seolah-olah bandung hanya punya satu pasar dan seluruh orang bandung tumpah ruah belanja di pasar itu. Belakangan baru aku tahu kalo yang belanja di pasar baru justru kebanyakan dari luar bandung. Wew! Mudah-mudahan ini pertanda baik bahwa barang-barang di sini berharga miring. Di lantai tiga, aku membeli sepotong jaket kulit dengan harga lumayan miring. Lumayanlah buat ngojek motoran.

Tak lama-lama di pasar baru, kita menuju ke tempat belanja lain yang beda segmen dengan pasar baru, yaitu Cihampelas-Walk atau yang lebih dikenal dengan Ci-Walk. CiWalk sebenarnya bisa disebut mall, tapi konsepnya beda dengan kebanyakan mall(setidaknya di surabaya). It’s not only a shopping center, but also a hang out center. Sayang banget kalo nggak foto-foto narsis di CiWalk. :P

Oya, CiWalk letaknya deket banget dengan jalan Cihampelas yang katanya banyak distro-distro bagus bin murah. Cuman berhubung waktunya mepet, kita jadi nggak sempat cuci mata di sana. Yang ada kita lanjut ke mall berikutnya yang tak kalah seru; Paris Van Java.

PVJ sama kerennya dengan CiWalk. Konsepnya juga sama. Lebih condong sebagai tempat nongkrong ketimbang tempat shopping. Di sini juga ada Blitz Megaplex, bioskop yang baru ada di Jakarta & Bandung. Surabaya belum. Nggak foto-foto di PVJ? Eits, itu fardhu ain hukumnya. :P

Puncak dari travelling session kita di bandung adalah pada 31 Agustus. Kita mengunjungi lokasi dimana pada zaman dahulu kala Sangkuriang menendang perahu sampe kebalik; Tangkuban Perahu. Satu setengah jam perjalanan dari b andung, sampailah kita di ketinggian 1850 meter di atas permukaan laut.

Nun di bawah sana kawah tangkuban perahu menganga lebar-lebar, siap menerkam siapa saja yang jatuh ke dalam. Aku yakin siapa pun yang jatuh ke kawah pasti langsung mati. Di tangkuban perahu kita foto-foto sampai senyum garing dan gigi kering. Kita juga sempat pamer suara dikit di depan para pengunjung yang lain dengan menyanyikan lagu Mars UPN dan Seblang Subuh. Kapan lagi bisa nyanyi bareng GWG di puncak gunung? :D

Pulang dari tangkuban perahu mulut tak henti-hentinya mengucap syukur karena kita benar-benar bisa have fun selama di bandung. Tanggal 1 September kita udah berangkat menuju surabaya, meninggalkan kenangan manis, membawa pulang medali perak hasil nyanyi kita di ITB.

Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan untuk Ibu Rohani terkasih, Pak Ignas Irwan tercinta, Encik Lila, teman-teman outsourcing(Mbak Suci, Lala dan Icha), serta seluruh teman-teman Paduan Suara Gita Widya Giri. Terima kasih atas kekompakan dan perjuangan kita di FPS ITB 2008. Kebersamaan kita selama seminggu di bandung akan selalu tersimpan rapi di memori. :)

Read Full Post »

Older Posts »